Pantau Flash
Bank Indonesia: Cadangan Devisa Cukup Penuhi Kebutuhan
Komisi I DPR: Pelibatan TNI dalam PSBB Diperlukan
Son Heung-min Latihan Perang Kimia
Baleg DPR Agendakan Raker dengan Pemerintah Sebelum Bahas RUU Ciptaker
PSBB DKI Jakarta Berlaku Mulai Jumat 10 April 2020

China akan Cabut Tarif Daging Babi Asal AS, karena Butuh?

Headline
China akan Cabut Tarif Daging Babi Asal AS, karena Butuh? Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - China menyatakan akan mencabut tarif terhadap kedelai, daging babi dan beberapa produk pertanian Amerika lainnya. Ini merupakan isyarat lain meredanya ketegangan antara kedua negara, menjelang pembicaraan perdagangan yang dijadwalkan untuk bulan depan.

Pengumuman yang dilansir kantor berita China Xinhua itu merupakan yang terbaru dari serangkaian sikap berdamai belakangan ini, yang ditunjukkan kedua ekonomi terbesar dunia itu untuk mengendalikan perang dagang mereka yang masih terus berlangsung.

Baca juga: Krisis Daging Babi Mulai Membuat China Keluarkan Stok Daging Babi Beku

Hari Kamis (12 September 2019), juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan China sedang mempertimbangkan pembelian produk-produk pertanian Amerika seperti daging babi dan kedelai.

Gao juga menyatakan harapan kedua pihak akan terus menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pembicaraan perdagangan mendatang di Washington.

China sebelumnya memberlakukan tarif 25 persen terhadap produk-produk pertanian Amerika dan memerintahkan para importirnya agar berhenti membeli kedelai, produk ekspor terbesar Amerika ke China. Beijing, Jumat (13 September 2019) tidak menunjukkan indikasi apakah pembelian kedelai itu akan dimulai kembali.

Tarif yang diberlakukan Beijing itu merupakan tanggapan atas kenaikan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Donald Trump terhadap produk-produk China.

Baca juga: Tarif Baru Ditangguhkan, China Pikir-pikir Beli Produk Pertanian AS

Namun pada Rabu lalu, Trump mengumumkan ia menangguhkan tarif terhadap produk-produk China senilai 250 miliar dolar dari 1 Oktober menjadi 15 Oktober.

Melalui Twitter ia mengatakan bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He telah meminta penangguhan itu karena perayaan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: