Pantau Flash
PSBB Ketat Jakarta Kembali Diperpanjang 14 Hari
Kasus Positif COVID-19 di RI Capai 262.022, Jumlah Meninggal Dunia 10.105
Febri Diansyah Mundur dari KPK
Idap Kanker Paru Stadium 4, Suami Bupati Bogor Ade Yasin Tutup Usia
Pasar Cempaka Putih Kebakaran, Damkar Sempat Alami Kesulitan Air

Deretan Masalah yang Guncang Bisnis Properti di Asia Gegara Perang Dagang

Deretan Masalah yang Guncang Bisnis Properti di Asia Gegara Perang Dagang Ilustrasi bisnis properti di Indonesia. (Foto: Antara/Reno Esnir)

Pantau.com - Konsultan properti Colliers International menyoroti dampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang diperkirakan bakal membuat stagnan aliran modal untuk sektor properti baik dari Asia ke global maupun sebaliknya.

"Perang dagang AS-China akan memiliki dampak jangka panjang terhadap investasi real estat komersial dan penyewaan perkantoran di Asia," kata Direktur Eksekutif Riset Colliers International Asia, Andrew Haskins, dalam rilis yang diterima di Jakarta.

Berdasarkan kajian Colliers, aliran modal untuk sektor properti baik dari Asia keglobal maupun global ke Asia diperkirakan bakal stagnan, tetapi aliran modal untuk sektor properti dari sesama negara di kawasan Asia diprediksi akan menguat.

Baca juga: Sederet Fakta Perang Dagang AS-China yang Gerus Investasi di Indonesia

Sementara itu, Direktur Pelaksana Jasa Perkantoran Colliers International Asia, Sam Harvey Jines, menyatakan bahwa sejumlah properti perkantoran yang bakal terdampak antara lain di Shanghai, Beijing, dan juga Hong Kong.

Sebagaimana diwartakan, investasi sektor properti diperkirakan bakal terdampak perang dagang antara AS-China karena ketegangan dagang tersebut memengaruhi pertumbuhan global.

"Kondisi pasar properti tidak bisa dipisahkan dengan kondisi ekonomi karena sebagai sektor bisnis pasti terkait dengan pergerakan fundamental ekonomi," kata Head of Research and Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus dalam paparan properti kepada media di Jakarta, Juni lalu.

Apalagi, ujarnya, situasi perekonomian global masih berkutat terhadap pemulihan global yang dibayangi oleh kondisi perang dagang antara AS-China.

Baca juga: Bank Goldman: Perang Dagang AS-China Menuju Resesi Berbahaya

Menurut dia, dampak dari kondisi tersebut memiliki efek yang sedemikian besar terhadap aktivitas perekonomian dunia.

"Secara global hal ini akan membayangi perekonomian dunia akibat dari recovery (pemulihan) yang masih melambat," ucapnya.

Untuk Indonesia, lembaga FocusEconomics memprediksi pertumbuhan Indonesia akan tumbuh 5,2 persen pada tahun 2019, sedangkan target pemerintah pada 2019 adalah sekitar 5,3 persen.

Indonesia, lanjutnya, juga mendapatkan kenaikan peringkat investasi dari Moody dan S&P sehingga hal tersebut juga memberikan gambaran perekonomian nasional yang cukup positif dan optimistis.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: