Pantau Flash
Presiden Jokowi Sebut Pemerintah Tak Bisa Sendirian Atasi COVID-19
Kasus Korona di AS Terus Meningkat, Emas Jatuh Investor Beralih ke Dolar
Luis Suarez Sepakati Kontrak 2 Tahun Bersama Atletico Madrid
Pertamina EP Asset 3 Berhasil Tingkatkan Produksi Migas
Pemprov DKI Gandeng 26 Rumah Sakit Swasta Jadi Rujukan COVID-19

Deretan Negara Paling Gila Kerja di Dunia, Malah Ada yang Telan Korban Jiwa

Deretan Negara Paling Gila Kerja di Dunia, Malah Ada yang Telan Korban Jiwa Ilustrasi bekerja. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Semua pasti sudah tahu kalau Jepang adalah negara dengan tingkat kerja yang cukup keras. Bahkan, kematian karena terlalu banyak bekerja begitu lazim di Jepang.

Korea Selatan mengurangi jumlah maksimum jam kerja mingguannya dari 68 jam menjadi 52 jam dalam upaya meningkatkan produktivitas dan jumlah anak yang dilahirkan di negara itu.

Tetapi rata-rata jam kerja mingguan bervariasi tergantung tempat anda tinggal di dunia. Jadi, negara mana yang bekerja hingga larut malam?

Tahun 2018 lalu, Majelis Nasional Korea Selatan mengeluarkan undang-undang yang akan memberikan istirahat yang layak bagi sejumlah besar angkatan kerjanya. Korea Selatan adalah negara maju dengan jam kerja terpanjang, menurut Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development, OECD).

Baca juga: Efisiensi Garuda Indonesia, Fasilitas Awak Kabin ke Australia Dikurangi

Korea Selatan memiliki jam kerja yang lebih panjang daripada negara maju lainnya: rata-rata 2.069 jam per tahun, per pekerja, menurut data 2016 yang disusun oleh OECD.

Analisis ini mencakup 38 negara dan menunjukkan bahwa hanya orang Meksiko (2.225 jam tahun) dan Kosta Rika (2.212 jam tahun) yang bekerja lebih panjang.

Korea Selatan melawan tren global: studi yang dilakukan oleh Organisasi Buruh Internasional (International Labor Organization, ILO) menunjukkan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah cenderung bekerja lebih panjang daripada rekan mereka yang lebih kaya, berkat serangkaian faktor yang berkisar dari proporsi pekerja lepasan di angkatan kerja hingga upah yang lebih rendah, ketidakamanan pekerjaan dan masalah budaya.

Tapi Korea Selatan bukan satu-satunya negara kaya yang terbalik. Jepang memiliki masalah "kematian karena terlalu banyak bekerja", yang diungkapkan tidak hanya oleh statistik tetapi juga fakta bahwa bahasa Jepang memiliki kata untuk ini: karoshi.

Dalam istilah yang lebih spesifik, kata itu berarti karyawan yang sekarat baik dari penyakit yang berhubungan dengan stres (serangan jantung, stroke) atau orang-orang yang bunuh diri karena tekanan pekerjaan.

Rata-rata 1.713 jam bekerja per tahun di Jepang bukan termasuk yang tertinggi dalam daftar OECD, tetapi di luar angka itu, ada kenyataan suram yang menunjukkan bahwa negara itu tidak memiliki undang-undang yang mengatur batas maksimum jam kerja mingguan dan tidak ada batas jam lembur.

Pada tahun keuangan 2015-2016, pemerintah mencatat rekor 1.456 kasus karoshi. Kelompok hak pekerja mengklaim bahwa angka yang sebenarnya bisa berkali-kali lebih tinggi karena tidak dilaporkan.

Jepang memiliki masalah "kematian karena terlalu banyak bekerja", yang diungkapkan tidak hanya oleh statistik tetapi juga fakta bahwa bahasa Jepang memiliki kata untuk ini: karoshi.

Baca juga: Mercedes-Benz S 600 Guard Bakal Jadi Mobil Baru Jokowi, Harganya Selangit!

Menurut angka terbaru ILO, di Asia lebih banyak orang bekerja dengan jam kerja panjang: sebagian besar negara (32 persen) tidak memiliki batas nasional universal untuk jam kerja maksimum mingguan dan 29 persen lainnya memiliki ambang batas tinggi (60 jam atau lebih per minggu).

Dan hanya 4 persen dari negara-negara yang mematuhi rekomendasi ILO dan menetapkan standar ketenagakerjaan internasional dengan jam kerja maksimum 48 jam atau bahkan kurang dalam seminggu.

Di Amerika dan Karibia, 34 persen dari negara-negara itu tidak memiliki batas universal jam kerja mingguan, tingkat tertinggi di wilayah regional.

Salah satu negara tanpa batasan adalah Amerika Serikat. Tetapi di Timur Tengah memiliki batas-batas hukum yang lebih terbuka untuk jam kerja yang panjang: delapan dari 10 negara mengizinkan jam kerja mingguan lebih dari 60 jam per minggu.

Di Eropa, semua negara memiliki batas maksimum jam kerja mingguan, dan hanya Belgia dan Turki yang memiliki jam kerja legal lebih dari 48 jam.

Baca juga: Jual BBM, Pertamina Tak Tutup Mata Soal Perkembangan Mobil Listrik

Kota-kota 'gila kerja'

Tetapi Afrikalah benua dengan negara terbanyak yang lebih dari sepertiga angkatan kerjanya bekerja lebih dari 48 jam per minggu.

Di Tanzania, misalnya, 60 persen angkatan kerjanya bekerja di atas 48 jam. Survei juga mengidentifikasi kota-kota dalam hal jam kerja rata-rata.

Pada tahun 2016, Bank Swiss UBS merilis sebuah analisis dari 71 kota yang menunjukkan Hong Kong dengan rata-rata 50,1 jam kerja mingguan, mendahului Mumbai (43,7), Kota Meksiko (43,5), New Delhi (42,6) dan Bangkok (42,1).

Orang-orang Meksiko, terlepas dari memiliki jam kerja terpanjang, juga memiliki waktu libur yang paling kejam di dunia: cuti minimum tahunan mereka kurang dari 10 hari, seperti di Nigeria, Jepang dan China, misalnya.

Sementara negara tetangga seperti Brasil menawarkan libur minimum antara 20 hingga 23 hari.

Meski begitu, ini bisa menjadi lebih buruk. Di India, negara yang tidak memiliki batas nasional universal untuk jam kerja maksimum, para pekerjanya pun tidak memiliki jaminan cuti tahunan minimum.

Sementara di Indonesia, menurut Undang-undang ketenagakerjaan dalam pasal 77 menyebutkan aturan dan penjelasan mengenai peraturan kerja shift di Indonesia. Pasal 77 menyatakan: (1) Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. 8 jam per hari dan 40 jam per minggu dengan durasi 5  hari kerja per minggu.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: