Pantau Flash
Putar Ekonomi Dalam Negeri, Pertamina Gandeng 3 BUMN
OMG! Utang Garuda Indonesia Capai Rp31,9 Triliun
Peserta UTBK SBMPTN Bersuhu Tubuh di Atas 37,5 Derajat Tak Boleh Ikut Ujian
Presiden Jokowi Optimistis Defisit Anggaran Dapat Menyusut di 2023
Hari Pajak 2020, DJP Dorong Masyarakat Patuh Bayar Pajak

Deretan Perusahaan Belanda yang Akhirnya Jadi Milik Indonesia

Headline
Deretan Perusahaan Belanda yang Akhirnya Jadi Milik Indonesia Pengunjung mengamati koleksi Museum Maritim Indonesia milik PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (14/8/2019) (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

Pantau.com - Merdeka! semangat kemerdekaan harus terus sobat Pantau tamankan dalam berbangsa dan bernegara. Semangat itu sebagai penghargaan atas perjuangan para pahlawan. 

Tak hanya merdeka dari jajahan fisik, pemerintah RI kala itu juga berupanya mengambil hak perdagangan RI pasca kemerdekaan.

Sekitar 30 perusahaan dagang Belanda beserta cabang-cabangnya dinasionalisasi. Yang terbesar adalah apa yang disebut The Big Five: Boorsumij, Internatio, Jacobson van den Berg, Lindeteves Stokvis, dan Geowehry. Seluruh perusahaan perdagangan itu dilebur dalam PT Negara, yang dibentuk BUD.

Baca juga: Lama Tak ada Kabar, Freeport Rupanya Tak Ekspor Konsentrat Selama 3 Bulan

PT Negara kemudian dinamakan dengan Bhakti, yang terdiri dari sembilan Bhakti: PT Budi Bhakti (Borsumij), Aneka Bhakti (Internatio), PT Fadjar Bhakti (Jacobson van den Berg), PT Tulus Bhakti (Lindeteves), dan PT Marga Bhakti (Geo Wehry), PT Djaja Bhakti (Usindo), PT Tri Bhakti (CTC), PT Sedjati Bhakti (Jajasan Bahan Penting), dan PT Sinar Bhakti (Java Steel Stokvis).

The Big Five dimerger menjadi tiga BUMN Niaga: PT Tjipta Niaga (Persero), PT Dharma Niaga (Persero), dan PT Pantja Niaga (Persero). Ketiga perusahaan ini kemudian dimerger lagi menjadi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), yang juga dikenal sebagai Indonesia Trading Company (ITC). Satu-satunya BUMN trading company ini bergerak dalam perdagangan umum yang meliputi ekspor, impor, dan distribusi.

Baca juga: 5 Negara yang Pernah Dijajah oleh Indonesia

Perbankan

Hampir semua bank milik Belanda di Jakarta diambilalih oleh Serikat Buruh Bank Seluruh Indonesia (SBBSI), termasuk tiga bank besar: Nederlandse Handel Maatschappij (Factorij), Nederlandse Handelsbank (NHB), dan Escompto.

Menurut Beng To Oey dalam Sejarah Kebijaksanaan Moneter Indonesia Volume 1, untuk menghindari penguasaan oleh SBBSI, Peperpu bekerja sama dengan Bank Indonesia mengambil tindakan khusus terhadap ketiga bank itu pada 8 Desember 1957 dengan menempatkannya di bawah Badan Pengawas Bank yang diketuai Koordinator Finek/Staf Harian Penguasa Militer.

Nasionalisasi terhadap bank-bank milik Belanda harus diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kerugian terhadap cadangan devisa negara yang pada saat pengambilalihan ditahan pada bank bersangkutan.

Baca juga: Ini Deretan Negara Islam yang Menindas Negara Islam di Timur Tengah

"Untuk menyelamatkan cadangan devisa tersebut dibentuk Badan Pengawas Bank-Bank yang mempertahankan dan mengawasi direksi lama bank sehingga pimpinan operasi sehari-hari tetap dalam tangan direksi lama tersebut. Hal ini berbeda dengan perusahaan-perusahaan di bidang lainnya yang dikuasai, di mana pimpinannya secara langsung diambilalih pula," tulis Beng To Oey.

Setelah dilakukan pengawasan baru kemudian dinasionalisasi. NHB dinasionalisasi menjadi Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya. Escompto dinasionalisasi menjadi Bank Dagang Negara. Nederlandsche Handelmaatschappij NV (Factorij) dinasionalisasi dan dilebur bersama Bank Rakyat Indonesia dan Bank Tani Nelayan menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN). Namun, pada 1968 BKTN dipecah menjadi dua bank: BRI dan Bank Exim (Bank Expor Impor Indonesia). Pada Juli 1999, Bank Exim, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: