Ekonom Nilai Wajar Pemerintah Berutang, Asal…

ilustrasi (Pantau.com/Fery Heryadi)ilustrasi (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com  Penarikan utang oleh pemerintah dinilai akan menjadi salah satu topik pembicaraan hangat terlebih saat tahun ini seperti sekarang. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi mengatakan pada dasarnya politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan dan saling memengaruhi. “Yang penting, bagaimana utang digunakan pemerintah secara bijaksana untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat,” kata Faisal, Kamis (25/1/2018).

Faisal mengatakan proyeksi dan alokasi utang yang baik dalam pembangunan akan memberikan dampak yang baik pula bagi kinerja ekonomi. “Untuk bertumbuh, kita butuh utang. Tapi, proyeksi pembangunan sangat penting, sehingga utang menjadi tepat sasaran, berkualitas dan produktif,” lanjutnya.

Direktur Center for Strategic Development Studies (CSDS) Mulyanto mengatakan dalam membuat proyeksi dan mengalokasikan utang,  pemerintah harus lebih cermat dan berkualitas pada sektor-sektor yang benar-benar produktif. Alasannya, utang pemerintah sudah mencapai 28 persen produk domestik bruto (PDB) dan mendekati lampu merah.

Nah terkait itu kata Mulyanto, pemerintah perlu lebih hati-hati dan cermat dalam pengelolaan utang. Dia mengharapkan dana utang untuk membangun infrasturuktur dapat meningkatkan laju pertumbuhan.

Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir November 2017 sebesar USD347,3 miliar atau sekitar Rp4.636,455 triliun (Rp13.350 per dolar Amerika). 

Tim Pantau
Editor
Martina Prianti