Pantau Flash
Tim SAR Kerahkan 4 Helikopter ke Paniai Evakuasi Heli PT NUH
Total Kasus Positif di Lingkungan KPK Mencapai 115 Orang
Pesawat Dabi Air Ditembaki di Bandara Bilogai Papua oleh KKB
Belum Bayar Utang ke Negara, Bambang Trihatmodjo Dicegah ke Luar Negeri
Ketua KPU RI Arief Budiman Positif COVID-19

Ekonomi Indonesia di 'Zona Merah', Pemerintah Optimistis di Kuartal III-IV

Ekonomi Indonesia di 'Zona Merah', Pemerintah Optimistis di Kuartal III-IV Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Antara)

Pantau.com - Pemerintah optimistis pada  kuartal III dan IV-2020 ada tren perbaikan ekonomi karena sejumlah indikator menunjukkan sinyal positif setelah pemerintah meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Seperti diketahui, BPS baru saja mengumumkan perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 berada di 'zona merah' alias negatif 5,32 persen. Lantas, pemerintah Indonesia yakin akan ada perbaikan pada kuartal berikutnya.

“Ada keyakinan bahwa ini akan recover dalam bentuk shape pembalikan sehingga kuartal kedua adalah bottom ekonomi Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melalui video konferensi di Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Dalam pemaparannya, Menteri Airlangga menjelaskan indikator purchasing managers index (PMI) manufaktur yang sebelumnya pada Maret mencapai 27,5 kemudian pada Juli melonjak menjadi 46,9.

Baca juga: Begini Skenario Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi

Kemudian indiaktor lainnya, penjualan kendaraan bermotor terjadi tren perbaikan dari minus 82,3 persen pada Mei 2020 naik menjadi minus 54,6 persen. Pertumbuhan penjualan ritel terjadi tren perbaikan dari minus 20,6 persen pada Mei menjadi minus 14,4 persen pada Juli 2020.

Indeks keyakinan konsumen juga tumbuh dari 77,8 pada April menjadi 83,8 pada Juni dan survei kegiatan dunia usaha juga menunjukkan tren optimisme pada kuartal III-2020 sebesar minus 5,1 dari survei pada kuartal II-2020 sebesar minus 13,1.

Menko Airlangga menambahkan di pasar modal, sejumlah emiten masih membukukan keuntungan dan tumbuh positif dari sektor keuangan, kemudian sektor telekomunikasi, konsumer dan farmasi. Sektor riil, lanjut dia, juga masih memiliki daya tahan untuk tetap beroperasi secara positif dan tercermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kembali ke level 5.000.

Baca juga: Ambyar! Konsumsi Rumah Tangga Anjlok, Terburuk Sejak 1999

Sementara itu, dari agregat permintaan, tingkat inflasi inti sudah ada kenaikan pada Juli menjadi 0,16 persen setelah pada bulan sebelumnya 0,02 persen yang menandakan permintaan mulai muncul.

Dari sisi ekspor, lanjut Airlangga, periode Juni sudah ada kenaikan beberapa sektor di antaranya bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati naik dari minus 13,7 menjadi 13,4 persen.

Kemudian ekspor yang melonjak di antaranya mesin dan perlengkapan elektrik, kendaraan dan bagiannya, karet dan barang dari karet, alas kaki, mesin dan peralatan mekanis dan kertas dan karton.

“Recovery China dan terjadinya trade war AS dan China memberikan efek positif di mana ekspor kita terungkit, ini menjadi dorongan ke depan. Sektor CPO harganya di atas 600, ini sudah mulai kuat kembali,” tukasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: