Pantau Flash
Disiplin Terapkan Prokes, Ketua Satgas COVID-19 Positif Korona
Total Positif COVID-19 di Indonesia Capai 965.283 dengan 13.632 Kasus Baru
BMKG Prediksi Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu Diguyur Hujan Disertai Petir
BPJS Kesehatan Pantau Pemanfaatan Aplikasi P-Care Vaksinasi COVID-19
Gempa Besar Magnitudo 7,1 Guncang Sulawesi Utara

Eksportir Kulit Manis di Sumbar Akui Kesulitan Bahan Baku

Eksportir Kulit Manis di Sumbar Akui Kesulitan Bahan Baku Petani mengupas kulit kayu manis saat panen. (Foto: Antara/Wahdi Septiawan)

Pantau.com - Eksportir kulit manis (cinnamomum verum, sin. C. zeylanicum) di Sumatera Barat mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku untuk keperluan ekspor akibat makin minimnya petani yang tanam serta perlu waktu panjang 20-30 tahun agar bisa dipanen.

"Kulit manis makin sulit didapat, sementara permintaan ekspor untuk produk itu tinggi, apalagi saat musim dingin di negara Eropa dan Amerika," kata eksportir kulit manis Dani, di Padang, Jumat (4/12/2020).

Akibat kelangkaan kulit manis itu harga komoditas yang digunakan untuk obat serta minuman itu terus meningkat. Harga tertinggi, kulit manis super dihargai hingga Rp75.000 per kg, jenis EC Rp35.000 per kg, jenis KA Rp55.000 per kg dan jenis KB Rp45.000 per kg.

Baca juga: Dorong Ekspor Produk Perikanan, BC Sarankan Ekstensifikasi Objek Ekspor

Sebelumnya hasil kulit manis asal Sumatera Barat bersama tiga provinsi lain sebanyak 50 ton berbentuk stik kering dan pecahan kering (chipped) diekspor oleh Badan Karantina Pertanian ke Prancis dan Amerika Serikat (AS) senilai Rp3,36 miliar.

Di Sumatera Barat menurut dia belum ada perusahaan yang mengembangkan perkebunan kulit manis, sedangkan di tingkat petani pohon yang ditanam luasannya relatif kecil atau tidak sampai berhektare-hektare.

"Kita dapat kulit manis dalam jumlah yang agak besar dari Kerinci, Provinsi Jambi, sedangkan untuk di Sumatera Barat hampir semua kabupaten ada, namun produksinya tidak banyak dan yang agak besar ada di daerah Malalak, Kabupaten Tanah Datar," ujar Dani yang merupakan alumni ITB itu.

Petani di Sumatera Barat usai memanen kulit manis dengan menebang pohonnya kadang enggan menanam lagi dikarenakan perlu waktu lama untuk bisa dipanen. Kadang mereka tanam dalam jumlah agak banyak lebih diperuntukkan untuk anak mereka. "Kalau dulu orang yang menikah biasanya menanam kulit manis, kalau sekarang kebiasaan itu makin jarang dilakukan," ujar Dani sembari menyatakan dari satu batang kulit manis bisa didapat hasil kulit sekira 150 kg.

Baca juga: Para Eksportir Belum Diwajibkan Konversi Dolar ke Rupiah

Seorang pengumpul kulit manis warga Tanjung Baru, Tanah Datar Ilham membenarkan harga kulit manis menggeliat naik. Ia mengaku, memanfaatkan momen ini dengan menjadi “tauke” musiman kulit manis yang beranggotakan beberapa orang dengan membeli kulit manis dari warga setempat, kemudian dijual ke pedagang pengumpul.

Kenaikan harga kulit manis di tingkat pengepul rata-rata Rp5.000 tiap jenisnya dan harganya ditentukan oleh kadar air yang ada dikulit manis tersebut.

Kulit manis yang merupakan tumbuhan rempah memiliki banyak khasiat diantaranya kaya akan antioksidan, anti-inflamasi, menurunkan risiko penyakit jantung, meningkatkan sensitivitas terhadap hormon insulin, menurunkan kadar gula darah dan memiliki efek anti diabetes yang kuat serta baik untuk pengobatan penyakit neurodegeneratif.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: