‘Garap’ Kilang Bontang, Kerjasama Pertamina-Konsorsium Oman Bernilai Fantastis

Headline
Direksi Pertamina memberikan keterangan pers. (Foto: Pantau.com/Ratih)Direksi Pertamina memberikan keterangan pers. (Foto: Pantau.com/Ratih)

Pantau.com – PT Pertamina (Persero) menjalin kemitraan dengan perusahaan minyak asal Oman yakni Overseas Oil and Gas LLC (OOG), dalam pembangunan kilang Bontang di Kalimantan Timur.


Terkait kerja sama tersebut, OOG menggandeng perusahaan trading Cosmo Oil International Pte Ltd (COI) yang merupakan trading arm Cosmo Energy Group yang menjadi salah satu perusahaan pengolahan minyak di Jepang. 


“Nilai proyek pembangunan ini diperkirakan akan mencapai US$10 miliar, atau sekitar Rp130 triliun,” ujar Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Ardhy N Makobombang, saat jumpa pers di Gedung Pertamina, Selasa (30/1/2018).


Ardhy menjelaskan, pembangunan kilang Bontang merupakan salah satu program pemerintah untuk membangun kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR). Konsorsium tersebut terpilih setelah proses seleksi calon mitra untuk proyek GRR Bontang.


“Proses pemilihan ini dilaksanakan berdasarkan skema penugasan pemerintah melalui Keputusan Menteri ESDM 7935 K/10/MEM/2016 tanggal 9 Desember 2016,” jelas Ardhy.


Dari pembangunan kilang di Bontang, Kalimantan Timur, diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa penambahan kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu barel per hari. Produk utamanya sendiri berupa gasoline dan diesel.


Pembangunan Kilang Bontang, diperkirakan akan memberikan lapangan pekerjaan hingga lebih dari 20 ribu orang saat proyek pembangunan, dan sekitar 1.600 orang saat kilang sudah beroperasi.


Tahapan selanjutnya, Pertamina dan mitra terpilih akan menandatangani frame work agreement yang dilanjutkan dengan feasibility study (FS) yang akan diselesaikan pada pertengahan 2019. Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan engineering package (FEED) hingga akhir 2020. Ditargetkan kilang Bontang beroperasi pada 2025.


Sebagai informasi, proses seleksi dijalankan sejak Januari tahun 2017, yang pada awalnya diikuti oleh sekitar 100 perusahaan. Selanjutnya, setelah tahapan seleksi awal, project expose hingga tahap request for information dan workshop diperoleh delapan calon mitra potensial.


“Selanjutnya, Pertamina menyampaikan persyaratan terkait dengan perubahan struktur bisnis GRR Bontang kepada mitra potensial tersebut yakni dari sisi finansial Pertamina tidak ikut mendanai proyek dan Pertamina mendapatkan 10% saham dari proyek tanpa mengeluarkan biaya,” papar Ardhy.


Selain itu, Pertamina juga menyampaikan perubahan struktur bisnis terkait dengan deposit dana pasokan minyak mentah. Di mana Pertamina berhak memasok sampai 20% dari minyak mentah GRR Bontang, product offtake. Pertamina tidak memberikan jaminan offtake serta Pertamina bersedia bekerja sama untuk joint marketing. 


“OOG mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Oman untuk pendanaan proyek dan penyediaan pasokan minyak mentah, serta memiliki kemitraan strategis dengan COI dalam hal dukungan teknis dan pemasaran produk,” kata Ardhy.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta