Pantau Flash
KPK Ingatkan Penyelewengan Anggaran Terkait Korona Bisa Dihukum Mati
Pangeran Charles Sembuh dari Virus Korona
Mitigasi Dampak COVID-19, BI Dukung Penerbitan Perppu No 1 Tahun 2020
10.597 Warga Jabar Sudah Ikut Rapid Test, 409 Ditemukan Positif COVID-19
Di Tengah Wabah Korona, Menteri Edhy: KKP Akan Berikan Layanan Terbaik

Harga Minyak Anjlok, Raja Salman Ganti Menteri Energi dengan Putranya

Headline
Harga Minyak Anjlok, Raja Salman Ganti Menteri Energi dengan Putranya Menteri Energi Saudi, Khaled al-Falih (kanan) digantikan oleh Wakilnya, Pangeran Abdulaziz bin Salman bin Abdulaziz (kanan), yang juga putra Raja Salman. (Foto: AFP)

Pantau.com - Raja Arab Saudi Salman mengganti menteri energi negara itu dengan salah seorang putranya. Raja Salman mengumumkan nama Pangeran Abdulaziz bin Salman untuk duduk di salah satu posisi terpenting di negara itu, sementara harga minyak tetap di bawah nilai yang dibutuhkan untuk mengimbangi pengeluaran pemerintah.

Menteri Energi yang baru itu adalah saudara tiri Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Pangeran Abdulaziz menggantikan Khalid Al-Falih yang telah menjabat sejak tahun 2016.

Baca juga: Jalan Tol di Calon Ibu Kota Baru RI Bakal Rampung Akhir Oktober 2019

Dilansir VOa, sebelum memangku jabatan itu Pangeran Abdulaziz sudah memiliki pengalaman di sektor energi Arab Saudi dan dinilai sebagai pilihan yang aman dan tepat untuk memimpin kementerian yang akan mengawasi produksi salah satu eksportir minyak terbesar di dunia. Ia telah menjabat beberapa posisi senior dalam Kementerian Energi selama lebih dari 30 tahun, dan terakhir sebagai Menteri Negara Urusan Energi.

Meskipun memiliki posisi penting untuk mengawasi portofolio energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz tidak dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, putra raja yang paling berkuasa dan dipersiapkan menjadi pewaris.

Baca juga: Kemenkeu Beberkan Pentingnya Menaikkan Iuran BPJS Kesehatan

Penunjukkan Pangeran Abdulaziz menandai keberadaan seorang pangeran dari keluarga Al Saud, yang berkuasa memimpin kementerian energi yang strategis.

Langkah ini diambil ketika harga minyak mentah jenis Brent di bawah 60 dolar per barel, jauh di bawah kisaran 80-85 dolar per barel yang menurut para analis dibutuhkan untuk menyeimbangkan anggaran Arab Saudi.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni