Ini 4 Rekomendasi Dorong Industri Manufaktur

ilustrasi (Pantau.com/Fery Heryadi)ilustrasi (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com  Ninasapti Triaswati, Ekonom Universitas Indonsia mengatakan pemerintah perlu meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia. Alasanya, pertumbuhan industri manufaktur di dalam negeri masih relatif kecil padahal termasuk industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Industri Manufaktur Besar dan Sedang (IBS) dan Industri Manufaktur Mikro dan Kecil (IMK), sama-sama mengalami pertumbuhan produksi 4,74 Persen pada tahun lalu. Hanya saja, pada laju pertumbuhan IMK juga tercatat pertumbuhan pada tahun lalu merupakan yang paling terendah sejak 2013.

Catatan BPS menyebutkan, pada 2013 IMK tumbuh 7,51 persen dan tercatat melambat pada 2014 tapi masih tumbuh 4,91 persen. Pertumbuhannya kembali naik pada 2015, mencapai 5,71 persen kemudian naik tipis pada 2016 yang mencapai 5,78 persen.

Ninasapti mengatakan daya saing industri manufaktur baik skala besar, sedang maupun mikro dan kecil, perlu didorong melalui kebijakan yang lebih berpihak kepada industri manufaktur domestik. Nah terkait itu, kepada Pantau.com, ia menyampaikan empat rekomendasi.

Pertama, meningkatkan nilai tambah industri manufaktur melalui berbagai strategi industrialisasi. Kedua mengurangi biaya birokrasi, perizinan, dan perpajakan. 

“Ketiga, menyederhanakan aturan perundang-undangan untuk meningkatkan iklim usaha di industri manafaktur khususnya dalam hal ketenagakerjaan,” kata Ninasapti. Selanjutnya keempat, memudahkan pemasaran dan perdagangan produk industri manufaktur di dalam negri maupun ke luar negeri.

Tim Pantau