Ini Alasan Mainan Lokal dan Impor Diwajibkan Berlabel SNI

Logo Badan Standardisasi Nasional. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)Logo Badan Standardisasi Nasional. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com  Badan Standardisasi Nasional (BSN) mewajibkan seluruh mainan anak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebenarnya, aturan ini bukan hal baru, lantaran sudah ada sejak 2013 yang mengacu kepada Peraturan Menteri Perindustrian yang sempat direvisi beberapa kali hingga kini. 


Kepala Pusat Sistem Penerapan Standar BSN, Wahyu Purbowasito mengatakan pemberlakuan wajib SNI bagi mainan anak didasari sejumlah pertimbangan adanya risiko atas penggunaan mainan. Risiko dimaksud antara lain risiko mainan tidak aman seperti bahaya tertelan dan tersedak.


“Sebagai contoh, aksesoris yang tertempel pada boneka, bisa lepas dan tertelan. Kemudian, bahaya kerusakan alat pendengaran yang ditimbulkan suara seperti sirine mobil-mobilan,” kata Wahyu, Rabu (24/1/2018).


Lebih lanjut Wahyu memberikan contoh lainnya, adanya risiko bahaya pada mata dari pistol mainan atau panah-panahan. Selain itu, risiko bahaya terjerat atau tercekik, yang biasa dijumpai pada permainan tali. Wahyu mengatakan, pihaknya juga mengamati adanya risiko bahaya tersayat dan tergores dari mainan baik yang terbuat dari bahan plastik, kayu, maupun logam.


“Kami bahkan memperhitungkan bahaya terjatuh, yang biasa dijumpai pada ayunan atau seluncuran,” lanjutnya. 


Dia mengatakan penetapan SNI mainan anak, bukan hanya untuk mainan asal luar negeri atau impor, tapi juga mainan buatan pengusaha lokal. “Tujuannya hanya satu, untuk melindungi anak-anak dari mainan dari sisi jaminan kualitasnya. Untuk pelaku usaha mikro dan kecil, pemerintah bantu mengurus sertifikat SNI,” kata Wahyu. 

Tim Pantau
Editor
Martina Prianti