Ini Alasan Pemerintah Dongkrak Target Ekspor Nonmigas Jadi 11 Persen

IlustrasiIlustrasi

Pantau.com Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengevaluasi target peningkatan ekspor nonmigas (minyak dan gas) dari lima hingga tujuh persen, jadi 11 persen pada tahun ini. 

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan evaluasi target peningkatan ekspor tersebut, disebabkan optimisme pemerintah terhadap kondisi perekonomian global. Faktor lainnya, membaiknya harga komoditas seperti batu bara yang akan berdampak langsung terhadap kinerja ekspor Indonesia.

“Angka 11 persen pertumbuhan itu bisa dicapai bahkan kalau saya, menginginkan itu lebih tinggi lagi akan tetapi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan,” kata Enggartiasto, di sela-sela Rapat Kerja Kementerian Perdagangan, Jumat (2/2/2018).

Ia melanjutkan pada tahun lalu pihaknya telah berupaya untuk membuka akses pasar khususnya negara-negara nontradisional atau di luar negara tujuan ekspor utama Indonesia. Termasuk di dalamnya, juga penyelesaian perjanjian kerjasama internasional baik bilateral maupun multilateral.

Nah menurut menteri perdagangan, salah satu peluang yang cukup menjanjikan dari pasar nontradisional adalah Nigeria. Hanya saja Enggar menilai negara tersebut memiliki permasalahan untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing. Hal itu karena pemerintah Nigeria membatasi importasi yang sesungguhnya dibutuhkan oleh pelaku usaha.

Disebutkan, Pemerintah Nigeria mengeluarkan aturan yang membatasi importir barang-barang dan jasa tertentu untuk mendapatkan valuta asing di pasar valas Nigeria. Komoditas dalam daftar tersebut antara lain palm kernel, produk minyak sawit dan vegetable oil, beras, margarin, dan furnitur. 

“Selain itu, kita akan bentuk tim untuk perdagangan timbal balik. Saya akan ajak para pemangku kepentingan, seperti para pengusaha,” lanjut Enggar.

Sementara itu  Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyatakan untuk meningkatkan kinerja ekspor, dibutuhkan investasi yang nantinya akan membuka lapangan kerja dan menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.

“Kita yang butuh investor untuk membuka lapangan kerja dan produksi. Investor itu punya pilihan, jika kita rumit atau sulit, mereka akan lari ke negara tetangga seperti Vietnam, Thailand atau Malaysia,” ujar Thomas.

Tim Pantau