Pantau Flash
Blak-blakan Menkes: Pemerintah Tidak Ada Rencana untuk Subsidi Test PCR
Maluku Utara Diguncang Gempa 5,1 Magnitudo, Berpusat di Kedalaman 92 Km
Kabar Gembira! Menkes Buka Peluang Vaksinasi Usia 5-11 Tahun Dimulai Awal 2022
Polri Ringkus Komplotan Judi dan Pornografi Online, Raup Rp4,5 Miliar per Bulan
Kapolda Sumut Copot Kapolsek Kutalimbaru, Buntut Ulah Anak Buahnya Cabuli Istri Tahanan

Ini Dia 5 Kontraktor Penyumbang Lifting Migas Terbesar Nasional

 Ini Dia 5 Kontraktor Penyumbang Lifting Migas Terbesar Nasional Offshore (Foto: Kementerian ESDM)

Pantau.com - Lifting Migas Semester I 2019 Capai 1,8 Juta BOEPD, Ini 5 KKKS Penyumbang Lifting Migas Terbesar Nasional.  Tak lengkap kalau bicara minyak dan gas tapi tak tahu soal lifting.

Sebelum kita masuk kepada inti, sobat Pantau sudah tahu belum apa itu lifting migas?

Bahasa awamnya Lifting Migas adalah data produksi siap jual. Laporan semester ini, rupanya Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi operasional lifting migas nasional mencapai 1,8 juta boepd (barrel oil ekuivalen per day) atau sebesar 90 persen dari target lifting nasional.

"Laporan SKK Migas menyebutkan lifting migas hingga akhir Juni 2019 sudah mencapai 90 persen, rinciannya lifting minyak 752 ribu bopd (barrel oil per day) atau 97 persen dari target APBN, sementara lifting gas 1,05 juta boepd atau 86 persen dari target APBN," papar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, di Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Baca juga: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Akan Hangatkan Dieng

Ia mengakui bahwa realisasi lifting memang masih belum mencapai target mengingat kemampuan cadangannya, namun Agung menyebut capaian ini telah didorong upaya optimalisasi serta pengembangan baru melalui pengeboran sumur baru, onstream proyek baru, dan pemeliharaan yang optimal.

"Khusus untuk minyak, decline rate-nya bahkan dapat diminimalkan hingga 3 persen. Ini prestasi mengingat secara umum, decline rate alamiah rata-rata pada kisaran 15-20 persen untuk mayoritas lapangan di Indonesia," ungkapnya.

Di Semester II 2019, diharapkan dapat mulai onstream lapangan YY-ONWJ, Panen-Jabung, dan Kedung Keris-Cepu.

"Ini yang akan memberikan tambahan produksi minyak secara total sekitar 10.000 bopd, mulai Kuartal IV 2019, juga dari Blok Merangin II, dengan tambahan produksi sekitar 1.500 bopd dari produksi eksisting di awal tahun 2019," papar Agung.

Untuk gas, penyerapan oleh buyer cukup menentukan salah satunya cargo LNG di Bontang belum terserap maksimal. Beberapa sumur pengembangan baru, antara lain di Mahakam dan Pangkah, juga masih belum memberikan output produksi yang optimal. Diharapkan, pengeboran sumur baru di Semester II 2019 akan meningkat seiring dengan estimasi kebutuhan energi yang lebih besar di Semester II 2019.

Baca juga: Pencarian Cadangan Migas Baru di Perairan Selat Malaka

Sampai akhir Semester I, proyek Gas di TSB Phase 2 dan Seng Segat juga sudah onstream dengan tambahan produksi total 220 mmscfd yang diserap oleh buyer domestik. "Diharapkan dapat lebih optimal di Semester II 2019. (Lifting gas) Ini juga akan bertambah karena masih ada 6 proyek GAS hingga akhir 2019, dengan estimasi tambahan 280 mmscfd di semester II," terang Agung.

Ia mengungkapkan, SKK Migas bersama KKKS terus berupaya melaksanakan program pengembangan yang berkelanjutan, juga melaksanakan eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru.

Hingga semester 1 2019 ini, 75 persen lifting minyak nasional disumbang oleh 5 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) besar di Indonesia dengan rincian sebagai berikut:

1. CPI : 194 ribu bopd

2. EMCL : 220 ribu bopd

3. Pertamina EP : 80 ribu bopd

4. PHM : 37 ribu bopd

5. PHE OSES : 29 ribu bopd

Sementara 65 persen dari total lifting gas nasional disumbang oleh KKKS berikut:

1. BP Tangguh : 971 mmscfd (174 ribu boepd)

2. COPHI Grissik : 827 mmscfd (148 ribu boepd)

3. Pertamina EP : 768 mmscfd (137 ribu boepd)

4. PHM : 662 mmscf (118 ribu boepd)

5. ENI Muara Bakau : 589 mmscfd (105 ribu boepd)

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: