Ini Penilaian Ekonom Soal Target Pertumbuhan Ekonomi di 2018

Masyarakat di salah satu pusat berbelanjaan. (Pantau.com/Fery Heryadi)Masyarakat di salah satu pusat berbelanjaan. (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com  Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang tercatat 5,07 persen, lantaran mengalami stagnasi. 

“Akibatnya daya beli masyarakat miskin jatuh. Kemudian ada kecenderungan orang kaya menahan belanja, mengakibatkan ritel menengah atas berguguran,” ujar Bhima, Senin (5/2/2018).

Bhima mengatakan ekspor memang tumbuh cukup tinggi yakni 9,09 persen namun saat bersamaan, impor juga naik tinggi 8,06 persen. Akibatnya, net ekspor kurang dari 2 persen. 

Ia melanjutkan industri manufaktur juga tercatat mengalami pertumbuhan stagnan dengan porsinya terhadap pertumbuhan ekonomi anjlok. Manufaktur hanya tumbuh 4,27 persen, dengan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 20,16 persen. “Tanda deindustrialisasi semakin parah,” imbuhnya. 

Padahal kata Bhima, secara global sebenarnya ekonomi sedang bergerak naik. Makanya pertumbuhan ekonomi yang hanya sekitar 5 persen menjadi tanda peluang belum dioptimalkan. 

Melihat realisasi pertumbuhan tahun lalu, Bhima menganggap target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada tahun ini bakal sulit dicapai. “Estimasi INDEF, tahun 2018 ekonomi cuma tumbuh 5,1 persen,” kata Bhima.

Ia berpendapat konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pertumbuhannya akan stagnan. Tingkat konsumsi rumah tangga, dinilai dapat melemah jika inflasi tertekan harga pangan dan harga minyak. “Kalau inflasi tinggi, daya beli bisa terpukul. Di tahun politik juga ada kecenderungan kelas atas menahan konsumsinya,” kata Bhima.

Di sisi lain dia mengatakan laju pertumbuhan ekspor tidak akan setinggi tahun lalu. “Harapannya, motor pertumbuhan yang berasal dari investasi bisa tumbuh hingga 7 persen hingga 9 persen untuk menopang sektor riil,” kata Bhima.

Terkait itu dia mengatakan ekspor perlu dilakukan perluasan negara tujuan baru. “Kemudian investasi perlu ditingkatkan dengan mengevaluasi paket kebijakan serta insentif fiskal. Untuk melindungi daya beli masyarakat jaga tarif listrik dan bahan bakar minyak hingga akhir tahun dan pencairan bansos juga jangan terlambat,” kata Bhima.

Tim Pantau