Ini Permintaan Pedagang Rokok Vape Terkait Pengenaan Cukai 57%

ilustrasi (Pantau.com/Ratih)ilustrasi (Pantau.com/Ratih)

Pantau.com  Rencana pemerintah bakal memungut cukai sebesar 57% bagi likuid vape atau e-sigaret yang menggandung tembakau, disambut beragam oleh sejumlah pedagang vape. Rencananya, aturan baru tersebut bakal mulai berlaku pada 1 Juli 2018. 

Steven (27), salah satu pedagang vape menilai tarif cukai yang ditetapkan pemerintah terlalu besar. “57% sih termasuk gede. Kasian juga pengguna vape soalnya kan sudah terlanjur berhenti dari rokok. Saya misalnya berhenti merokok 4 tahun karena vape,” ujar Steve yang ditemui Pantau.com, di tempatnya berjualan di Jalan KH Agus Salim Menteng, Jakarta Pusat.

Steven yang mengaku juga salah satu pengguna liquid tembakau, mengaku sudah beralih menggunakan vape dan merasa tidak ada efek samping. “Saya sudah berhenti ngerokok selama 4 tahun karena vape dan selama ini saya ‘ngevape’ tidak ada efek samping sama sekali. Kebutuhan aja, vape buat ninggalin rokok,” paparnya.

Steven berharap, rencana penggenaan cukai pada likuid vape hanya kepada likuid yang mengandung tembakau saja. “Tidak keberatan asalkan tidak ada pengaruh terhadap jenis liquid yang lainnya,” lanjut Steve.

Sementara itu pedagang lainnya, Aldi (19) mengaku menyambut baik rencana kebijakan pemerintah tersebut. Hanya saja dia berharap, rencana pemerintah tersebut tidak menekan omset yang diperoleh pedagang vape. “Semoga cukup menguntungkan untuk kami pegiat vape store,” kata Aldi yang ditemui di tokonya yang berada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Steve maupun sejumlah pedagang vape lainnya yang tidak mau dikutip namanya mengatakan jika dibuat perbandingkan sebenarnya konsumen likuid vape rasa tembakau lebih sedikit dibandingkan rasa lainnya. Meski demikian, peminat likuid tembakau pada umumnya merupakan konsumen yang loyal.

Tim Pantau
Editor
Martina Prianti