Ini Potensi Dampak Jika Ekspor Terus Melambat

Salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta yang menjual barang konsumsi. (Pantau.com/Fery Heryadi)Salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta yang menjual barang konsumsi. (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com  Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira memperkirakan pertumbuhan ekspor pada tahun ini tidak akan sebesar tahun lalu. Tahun lalu, pertumbuhan ekspor mencapai 9 persen.

“Kalau sekarang (2018) bisa 7 persen saja pertumbuhannya sudah cukup bagus,” ujarnya saat dihubungi pantau.com, Jumat (16/2/2018).

Bhima menilai penurunan ekspor akan penurunan surplus perdagangan tidak bisa dihindarkan bahkan dikhawatirkan defisit. Hal tersebut, sudah terjadi pada posisi postur neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2018 yang tercatat defisit USD 676,9 juta, atau Rp9,07 triliun. 

“Penurunan ekspor dampaknya surplus perdagangan berkurang, bahkan dikhawatirkan defisit, atau surplus tapi kecil masih di bawah USD1 miliar (Rp13,40 triliun, 1 USD=Rp13.400),” kata Bhima.

Selain itu, Ia mengatakan pelambatan pertumbuhan ekspor juga tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 yang ditargetkan 5,4 persen, dikhawatirkan bakal sulit tercapai. 

“Ekspor ini kan cukup besar sekitar 20 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Jadi kalau kinerja ekspor tidak terlalu bagus maka pertumbuhan ekonomi sampai akhir 2018 ya, sulit untuk mencapai target pemerintah 5,4 persen dan paling mentok 5,1 persen sudah bagus,” paparnya.

Baca juga: Ini Kata Ekonom Soal Defisit Neraca Perdagangan

Ia melanjutkan, dampak dari adanya pelambatan ekspor juga mesti ditanggung sektor-sektor lainnya. Misalnya, pendapatan petani kelapa sawit diperkirakan bakal ikut tergerus jika pertumbuhan ekspor melambat. 

Tak hanya itu, pelambatan pertumbuhan ekspor juga bakal memberikan pengaruh pada nilai tukar rupiah. Tahun ini, pemerintah mematok nilai tukar Rp13.400 per dolar Amerika.   

“Jika nilai tukar mengalami tekanan, effect-nya tidak bagus pada cadangan devisa. Di mana cadangan devisa kemarin sudah bagus USD131 miliar di bulan Januari tapi nanti di bulan Februari, kalau ada tekanan dari ekspor, cadangan devisa kita bisa berkurang atau tergerus,” paparnya. 

Baca juga: Menilik Inklusi Keuangan

Tim Pantau