Ini Strategi Pedagang Atribut Kampanye Cegah ‘Dikadalin’ Parpol

Sejumlah barang dagangan pedagang atribut kampanye Pilkada. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)Sejumlah barang dagangan pedagang atribut kampanye Pilkada. (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com – Pedagang atribut kampanye Pemilu baik Pilpres maupun Pilkada mulai bergeliat di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Mereka pun menerapkan strategi khusus dalam merespon pesanan dari partai politik (parpol). Tujuannya tak lain agar transaksi dagang berjalan lancar sehingga dapur tetap ‘ngebul’.


Salah satu pedagang atribut kampanye di Pasar Senen, Afdal Rasyid mengatakan, untuk menghindari transaksi yang tidak berjalan dengan lancar dibuat kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli sebagai pemesan.


“Jaga takut kalah (Pilkada/Pemilu), nanti pusing (kami) kalau kalah nggak mau bayar. Bingung saya carinya makanya sekarang (bayar nilai pemesanan) 70 persen atau kalau 50 persen, sisanya setelah pilkada,” kata Afdal.


Dia mengaku pernah mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan pada 2016. Afdal bercerita, ada pasangan pilkada yang melakukan pemesanan atribut kampanye kepada dirinya namun lantaran tidak menang, tidak membayar sisa tagihan orderan atribut kampanye. 


“Pilkada, kadang timses (tim sukses)-nya yang curang. Waktu itu (2016) nunggak Rp10 jutaan, tapi ya gimana kan namanya dagang gini sistemnya kepercayaan,” kata Afdal.


Tidak hanya di Pasar Senen, pedagang penyedia atribut kampanye Pilkada juga terdapat di Mangga Dua. Tak jarang, termasuk Afdal misalnya, mengaku pun membuka kios dagang menyediakan atribut kampanye di Mangga Dua. 


Dari kiosnya di Mangga Dua pada tahun politik ini, Afdal mengaku mendapat orderan menyediakan atribut kampanye dari pasangan Calon Gubernur Jawa Barat yakni TB Hasanuddin dan Anton Charliyan.


“Kios kakak saya yang di Mangga Dua, kemarin ada order dari TB Hasanuddin yang pasangan Anton Charliyan untuk Pilkada Jabar, orderannya kaos 100ribu pieces dan kalender 1juta pieces,” kata Afdal. 


Afdal mengatakan salah satu strategi lainnya yang diterapkan pedagang penyedia atribut kampanye adalah tidak pernah membatasi jumlah pemesanan. “Ya kan orang mau pesan terima aja semua. Orderan kita ambil semua, kalo kelebihan kita bagi-bagi ke (pedagang) yang lain, jadi semua kebagian kan,” ucap Afdal.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta