Pantau Flash
Erick Thohir Ganti Dirut PT Pembangunan Perumahan
Doni Monardo Sebut Akan Ada Standarisasi Harga Tes PCR
Gempa M 7,1 Maluku Utara Akibat Subduksi Lempeng Laut Filipina
Seorang Pemain Tottenham Hotspur Positif Terinfeksi COVID-19
Pemerintah Segera Bayar Dana Kompensasi kepada PLN dan Pertamina

Jika Redenominasi Deal, Apakah Nilai Mata Uang Rupiah Jadi Naik?

Headline
Jika Redenominasi Deal, Apakah Nilai Mata Uang Rupiah Jadi Naik? Uang Rupiah. (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Tahun lalu mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menghidupkan kembali rencana redenominasi rupiah, yakni penyederhanaan nilai rupiah dengan mengurangi tiga angka nol seperti Rp1.000 menjadi Rp1.

Dikutip dari halaman resmi Bank Indonesia, redenominasi adalah penyederhanaan dan penyetaraan nilai Rupiah. Memang akan ada angka nol yang hilang, namun redenominasi ini berbeda dengan sanering atau pemotongan nilai uang yang bertujuan menurunkan daya beli masyarakat.

Baca juga: Rencana Redenominasi Berlanjut, Rp1.000 Bakal Jadi Rp1?

Redenominasi ini biasanya dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil dan menuju ke arah yang lebih sehat. Sementara itu sanering adalah pemotongan uang dalam kondisi perekonomian yang tidak sehat.

Sebelumnya, tahun 1950, Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Keuangan Syafrudin Prawiranegara untuk melakukan pemotongan uang atau sanering. Saat itu Syafrudin menggunting uang bernilai Rp5 ke atas sehingga nilainya berkurang separuh. Misalnya saat ini ada sanering uang pecahan Rp100 ribu maka harganya hanya Rp50 ribu.

Baca juga: Cerita JK Soal Para Dubes Asing 'Ngemis' agar RI Tak Hentikan Pembelian Pesawat

Dalam redenominasi, baik nilai uang maupun barang hanya dihilangkan angka nol nya saja. Jadi nilai uang tetap sama, hanya lebih ringkas saja. Dengan demikian, redenominasi akan menyederhanakan penulisan nilai barang dan jasa yang diikuti pula penyederhanaan penulisan alat pembayaran. Setelah itu dilanjutkan dengan penyederhanaan sistem akuntansi dan sistem pembayaran tanpa menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian.

Contoh redenominasi adalah jika anda memiliki uang Rp20.000 maka redenominasinya akan menjadi Rp200, dengan uang ini anda masih bisa menggunakan untuk membeli ice cream senilai Rp100 (atau sebelumnya Rp10.000), jadi untuk nilai mata uangnya tidak berubah.

Nah jadi kalau uang Indonesia sudah di redenominasi maka dolar satu dolar adalah Rp14,4. BI menilai bahwa penambahan jumlah 0 (nol) yang sangat banyak pada rupiah membuat sistem teknologi yang terkait dengan pendataan dan informasi keuangan menjadi tidak efisien.

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: