Pantau Flash
Kematian Babi Akibat Virus ASF di NTT Mencapai 22.000 Ekor
Rakyat Rusia Setuju Presiden Vladimir Putin Berkuasa hingga 2036
Bansos Rp300 Ribu Hanya Dibagikan Sebulan Sekali Mulai Juli untuk Warga DKI
Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Tembus 60.000 per 3 Juli
Presiden Jokowi Bersyukur Status Indonesia Naik Menengah ke Atas

Jonan Gandeng Jepang Kembangkan Energi Hijau dari Turunan Kelapa Sawit

Headline
Jonan Gandeng Jepang Kembangkan Energi Hijau dari Turunan Kelapa Sawit Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko, dalam kunjungan kerja di Tokyo, Jepang, Jumat (23/8/2019). (Foto: Kementerian ESDM)

Pantau.com - Sempat bertandang ke Jepang soal kesepakatan soal Blok Masela, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan kembali ke negeri sakura tersebut. Ia mengajak Jepang untuk bersama-sama mengembangkan green energy (energi hijau) yang berkelanjutan, salah satunya berbasis produk turunan kelapa sawit.

"Kita minta Jepang mendukung adanya standar yang digunakan oleh industri kelapa sawit kita, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), tidak menggunakan semata-mata standar lain yang seperti Roundtable Suistanable Palm Oil (RSPO)," ujar Jonan disambut Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko, dalam kunjungan kerja di Tokyo, Jepang, Jumat (23/8/2019).

Dalam keterangan resminya, Jonan mengungkapkan pada dasarnya pihak Jepang menyepakati usulan tersebut dengan membentuk tim bersama yang akan melakukan studi teknis lebih lanjut.

"Jadi respon pihak Jepang juga sepakat, jadi mereka akan menggunakan studi secara teknis bersama tim Indonesia," ungkapnya.

Baca juga: 5 Perubahan Energi Jika Mobil Listrik Siap Mengaspal di Indonesia

Dikesempatan yang sama, Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan KelapaSawit (BPDP KS) Dono Boestami menambahkan, sudah semestinya Jepang juga menggunakan ISPO karena mandatori wajib bagi pengusaha-pengusaha sawit Indonesia.

"Sementara RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) itu lebih voluntary, sukarela sifatnya," tutur Dono.

Sementara, Komisioner Ombudsman RI Laode Ida pun turut menegaskan pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak ada lagi yang melanggar prinsip lingkungan. 

"Indonesia tidak lagi menolerir pengembangan perkebunan kelapa sawit yang tidak memperhatikan lingkungan," kata Laode yang mengawasi urusan perkelapasawitan tersebut.

Baca juga: Jonan Sebut Bali Wilayah Dengan Energi Terbarukan Paling Maju

Menteri METI Seko memahami penjelasan Indonesia. Ia akan meneruskan permintaan ini kepada tim teknis METI yang akan melakukan verifikasi lebih lanjut. 

"Semua masukan ini sangat berarti bagi kami. Selanjutnya tim teknis METI akan berkunjung ke Indonesia untuk melihat secara langsung pengelolaan sawit di Indonesia," kata Seko.

Perlu sobat Pantau tahu, istilah paling mudan menggambarkan energi hijau adalah yang dihasilkan dari sumber energi yang lebih ramah lingkungan (atau "hijau") dibandingkan dengan bahan bakar fosil (batubara, minyak, dan gas alam).

Karena itulah energi hijau mencakup semua sumber energi terbarukan (surya, angin, panas bumi, biofuel, tenaga air). Dalam hal ini, Indonesia konsen untuk produk turun sawit. 

Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: