Pantau Flash
Jokowi Kenakan Sabu, Baju Adat NTT di Sidang Tahunan MPR RI
Anies Kembali Perpanjang PSBB Transisi Jakarta untuk ke-4 Kalinya
Seluruh Peserta Sidang Tahunan MPR RI Wajib Melakukan Swab Test
Kadisparekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia Tutup Usia
Subsidi Bunga KUR 6 Persen Diperpanjang hingga Desember 2020

Jutaan Pekerja Bisa Terdampak Otomatisasi Pertambangan

Jutaan Pekerja Bisa Terdampak Otomatisasi Pertambangan Truck yang disebut 'Autonomous Haulage' di Australia semakin banyak terlihat di sektor pertambangan. (Foto: Christian Sprogoe Photography/Rio Tinto)

Pantau.com - Permintaan jumlah pekerja tambang sempat booming beberapa tahun lalu. Tapi perubahan dalam teknologi dan peningkatan otomatisasi berarti pekerjaan yang dibutuhkan akan berbeda kali ini.

Di tahun 2013, saat puncak booming-nya pertambangan terakhir, ada lebih dari 116.000 orang bekerja di sektor ini di Australia Barat. Kemudian ada penurunan lapangan kerja hingga 30 persen di tahun 2016. Tetapi dengan meningkatnya produksi dan meningkatnya harga emas dan bijih besi, ada pula peningkatan permintaan pekerja.

Pekerjaan pertambangan berada pada level tertinggi sejak masa puncaknya, dengan lebih dari 106.000 orang. Ketua Dewan Pelatihan di Australia Barat, Jim Walker mengatakan teknologi telah mengubah pekerjaan ke tingkatan yang semakin tinggi.

Jim saat ini bekerja dengan industri pertambangan dan TAFE di South Metropolitan Perth untuk mengembangkan kursus baru untuk mempersiapkan pekerja dalam upaya meningkatkan otomatisasi.

"Area TAFE sudah mendapatkan kursus teknologi," katanya.

Baca juga: Gaet China Exim Bank, Bukit Asam Penuhi Pembiayaan Proyek Tambang Sumsel 8

Tiga kursus baru akan disediakan untuk siswa pelatihan pendidikan kejuruan (VET) baik di sekolah atau di TAFE. Dalam sebuah laporan yang dirilis awal tahun ini, perusahaan konsultan McKinsey and Company memperkirakan ada sekitar 3,5 juta dan 6,5 juta pekerjaan penuh waktu di Australia yang dapat dipengaruhi oleh teknologi otomasi.

Diperkirakan di wilayah Pilbara, Australia Barat, yang didominasi sektor pertambangan, lebih dari 30 persen pekerjaan dapat terpengaruh.

Dilansir ABC, Jeff Carig dari serikat pekerja, saat ini sedang bekerja dengan perusahaan pertambangan soal transisi ke pekerjaan otomatis, dengan mengatasnamakan anggota Aliansi Pekerja Tambang Barat. Ia mengatakan masalah itu menjadi perhatian penting bagi para anggotanya.

"Saya merasakan para pekerja secara keseluruhan, khususnya pekerja dan ekonomi Australia Barat," katanya.

Jeff mengatakan ia dan rekan-rekannya sedang menyelidiki perkiraan sekitar 20.000 pekerjaan otomatis yang dibutuhkan sektor pertambangan di Australia Barat.

"Apa yang ingin kami lihat adalah transparansi soal klaim ini," katanya.

"Ini adalah masalah besar," tambahnya.

Ia juga mengatakan serikat kerja akan memastikan anggotanya mendapat esempatan untuk dilatih kembali. 

"Kami berbicara dengan anggota kami secara teratur tentang proses pemindahan."

Baca juga: Catatan Kiara untuk Ibu Kota Baru Kaltim: Jangan Hanya bagi Industri Besar

Pekerjaan Berubah

Jim Walker mengatakan penting bagi penambang dan karyawan mereka untuk secara aktif mencari tahu soal perubahan otomasi yang akan terjadi di industri ini.

"Itu menggantikan pekerjaan kami," katanya.

Tapi apa yang sebenarnya terjadi dalam operasi penambangan saat ini, mereka masih membutuhkan orang untuk terus melakukan servis pada peralatan, mereka masih membutuhkan orang untuk bekerja di ruang kontrol, mereka masih membutuhkan orang untuk benar-benar memastikan peralatan berjalan setiap hari.

Kepala proyek industri strategis di North Metropolitan TAFE, Peter Ebell mengatakan kursus penambangan di seluruh sektor pelatihan telah diubah oleh kemajuan teknologi.

"Otomasi sudah ada sejak lama, tetapi bisa dikatakan penekanannya telah terjadi dalam lima tahun terakhir," katanya.

Surveyor tambang dan dosen TAFE Louisa Rubelo mengatakan perubahan utama pada apa yang dia ajarkan adalah soal pengumpulan data dan bagaimana menerapkannya.

"Kami menjadi lebih banyak analis data," katanya.

"Kami memahami bahwa pekerjaan kami sedang berubah, tidak harus dihilangkan, dan kami menjadi pelopor dalam teknologi baru itu."

WA School of Mines dari Curtin University akan meluncurkan kurikulum baru pada tahun 2020, untuk fokus pada bidang seperti robotika dan analisis data.

Direktur Sabina Shugg mengatakan industri telah berubah dan dia ingin murid-muridnya dipersiapkan.

"Pasca booming, orang benar-benar lebih sadar soal biaya dan banyak tentang produktivitas," katanya.

"Perubahan produktivitas berarti ada ketergantungan besar pada otomatisasi, data besar, dan pendekatan digital, dan kami benar-benar harus memastikan lulusan kami mampu memimpin dalam industri ini," pungkasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: