Pantau Flash
Kemendikbud Terbitkan Kepmen 719/P/2020 Tentang Kurikulum Darurat
Dishub DKI Sebut Ganjil Genap Bisa Berlaku Seharian Tanpa Skema Waktu
Pemerintah Izinkan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning dan Hijau COVID-19
Waketum PPP Reni Marlinawati Meninggal Dunia
Kasus Positif COVID-19 per 7 Agustus Melonjak 2.473 dengan Total 121.226

Kementerian Perdagangan Dapat Wejangan dari Menteri Keuangan Era SBY

Kementerian Perdagangan Dapat Wejangan dari Menteri Keuangan Era SBY Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri (batik biru) (Foto: Instagram/Chatib Basir)

Pantau.com - Dalam pembahasan soal perdagangan dan investasi di tengah kondisi ekonomi dunia saat ini tentu banyak pihak memberikan nasihat kepada pemerintah. Dalam Dialog Kebijakan dengan tema "Trade and Investment Integration", di Auditorium Kemendag, Jakarta, pada Selasa (20 Agustus 2019), Menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni, Muhammad Chatib Basri menekankan bahwa dalam menjalin perjanjian kerja sama perdagangan dan investasi harus dapat menghasilkan cerita sukses yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat umum.

Tak ketinggalan, Penasihat Senior ERIA dan profesor Waseda University Shujiro Urata menegaskan bahwa seluruh negara harus memperkuat sistem perdagangan multilateral WTO (World Trade Organization) karena hal tersebut merupakan dasar dari semua perjanjian perdagangan bilateral maupun regional.

Menanggapi banyak sorotan, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kasan mewakili Menteri Perdagangan menegaskan, pemerintah akan terlibat dalam perdagangan terbuka, inklusif, dan berkelanjutan untuk semua negara.

Baca juga: Kendaraan Angkut Hasil Tambang dan Perkebunan Dilarang Gunakan BBM Subsidi

"Pemerintah akan terus fokus mengintegrasikan perdagangan dan investasi di tengah perang dagang yang terjadi saat ini," ujar Kasan.

"Kami berharap kegiatan ini mampu memberikan strategi baru dalam hal integrasi perdagangan dan investasi," tambahnya.

Ia menjelaskan, Indonesia berhasil mempertahankan hubungan dagang dengan negara-negara mitra utama, seperti Amerika Serikat (AS), India, Korea Selatan, dan Australia. Dengan AS, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 29 miliar pada 2018 dan akan ditingkatkan hingga menjadi USD 50 miliar.

Sedangkan total perdagangan bilateral Indonesia-India pada 2018 mencapai USD 19 miliar dan kedua negara sepakat meningkatkan hingga USD 50 miliar pada 2025. Selain itu, total perdagangan Indonesia-Korea Selatan tercatat sebesar USD 20 miliar dan akan ditingkatkan menjadi USD 30 miliar pada 2022. Hal tersebut merupakan alasan diluncurkannya kembali Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IK-CEPA) pada Februari 2019.

Baca juga: Kerja di Australia Dapat Upah Rendah? Jangan Ragu Lapor

Indonesia juga baru saja menandatangani perjanjian Indonesia-Australia CEPA pada 4 Maret 2019 yang terdiri dari perjanjian perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, dan kerja sama ekonomi.

Menurut Kasan, secara regional, Kemendag juga sedang melakukan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dengan enam negara Asia Timur. Hal itu dilakukan agar dapat membangun kemitraan dagang yang lebih kuat di Asia Timur.

"Kami optimis RCEP akan dapat disimpulkan secara subtansi pada akhir tahun ini," pungkas Kasan.

Indonesia menempati peringkat ekonomi ke-16 terbesar dan tujuan investasi paling favorit ke-4 di dunia. Indonesia optimis memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen dalam tiga tahun ke depan. Pada 2025, lebih dari 60 persen populasi Indonesia berada dalam usia produktif. Sementara itu, pada 2050 Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-3 di Asia dan ke-4 di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: