Pantau Flash
WP KPK Tolak Wacana Pembebasan Napi Koruptor Dampak Pandemi Korona
Penanganan COVID-19 di Jakarta Disebut Lebih Baik dari Jabar dan Banten
PSI pada Jokowi: Mudik Harus Dilarang, Kalau Imbauan Saja Tak Akan Efektif
Update COVID-19 3 April: 1.986 Kasus Positif, 134 Sembuh, 181 Meninggal
25 Anak Usaha Pertamina Akan Didivestasi dan Likuidasi

Kesepakatan Dagang AS-China, Menkeu: Berikan Kepastian

Kesepakatan Dagang AS-China, Menkeu: Berikan Kepastian Menteri Keuangan, Sri Mulyani bersama Presiden Jokowi. (Foto: ANT)

Pantau.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan kesepakatan perdagangan awal yang ditandatangani Amerika Serikat (AS) dan China akan memberikan kepastian kepada ekonomi global setelah selama beberapa bulan terjadi perang dagang.

"Kita lihat kalau agreement ini bisa bertahan, ini merupakan suatu langkah awal yang baik," kata Sri Mulyani Indrawati setelah menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Menurutnya, dengan adanya kesepakatan dua ekonomi besar dunia itu diharapkan mengakhiri ketidakpastian yang selama ini terjadi begitu tinggi. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga berharap agar kesepakatan dagang awal itu berkelanjutan sehingga keadaan ekonomi dunia berubah positif.

Sebelumnya, pada Rabu 15 Januari 2020 Amerika Serikat dan China menandatangani kesepakatan perdagangan awal yang akan menurunkan beberapa tarif dan meningkatkan pembelian China atas produk-produk AS. Penandatanganan itu juga diharapkan akan meredakan perselisihan 18 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia.

Baca juga: Hentikan Perang Dagang, AS-China Tanda Tangani Kesepakatan Fase 1

AS dan China menggembar-gemborkan perjanjian fase satu sebagai langkah maju setelah berbulan-bulan memulai pembicaraan, dan investor menyambut berita itu dengan lega.

Tetapi ada juga skeptisisme bahwa hubungan perdagangan AS-China sekarang sudah membaik. Kesepakatan itu gagal untuk mengatasi masalah ekonomi struktural yang menyebabkan konflik perdagangan, tidak sepenuhnya menghilangkan tarif yang telah memperlambat ekonomi global, dan menetapkan target pembelian yang sulit dicapai, kata para analis dan pemimpin industri.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memuji perjanjian itu sebagai kemenangan bagi ekonomi AS dan kebijakan perdagangan pemerintahannya dan mengakui perlunya negosiasi lebih lanjut dengan China untuk menyelesaikan sejumlah masalah lain.

"Bersama-sama, kami memperbaiki kesalahan masa lalu dan memberikan masa depan keadilan ekonomi dan keamanan bagi pekerja, petani, dan keluarga Amerika," kata Trump dalam sambutan yang bertele-tele di Gedung Putih bersama dengan pejabat AS dan China.

Baca juga: AS Jalani Kesepakatan Perdagangan dengan China, Dolar Melemah

Wakil Perdana Menteri China Liu He membaca surat dari Presiden Xi Jinping di mana pemimpin China memuji kesepakatan itu sebagai tanda kedua negara dapat menyelesaikan perbedaan mereka dengan dialog.

Inti dari kesepakatan itu adalah janji oleh China untuk membeli setidaknya 200 miliar dolar AS tambahan produk pertanian AS serta barang dan jasa lainnya selama dua tahun, lebih dari 186 miliar dolar AS dalam pembelian pada 2017, demikian keterangan Gedung Putih.

Komitmen itu termasuk 54 miliar dolar AS dalam pembelian energi tambahan, 78 miliar dolar AS dalam pembelian manufaktur tambahan, 32 miliar dolar AS lebih dalam produk pertanian, dan 38 miliar dolar AS dalam jasa-jasa, menurut dokumen kesepakatan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih. Liu mengatakan perusahaan China akan membeli 40 miliar dolar AS produk pertanian AS selama dua tahun ke depan "berdasarkan kondisi pasar."

Beijing telah menolak keras untuk berkomitmen membeli sejumlah barang pertanian AS sebelumnya, dan telah menandatangani kontrak kedelai baru dengan Brazil sejak perang dagang dimulai.

Indeks pasar saham utama dunia naik ke rekor baru di tengah harapan kesepakatan itu akan mengurangi ketegangan, tetapi harga minyak merosot di tengah keraguan pakta akan memacu pertumbuhan ekonomi dunia dan mendorong permintaan minyak mentah.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: