Pantau Flash
Paspor WNI Eks ISIS Akan Diblokir Pemerintah
Bappenas Sebut Ekonomi Indonesia 2021 Tergantung Donald Trump
Dua dari Tiga Pasien yang Dirawat RSHS Bandung Dinyatakan Negatif Korona
Menlu Retno Hadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Sidang Dewan HAM PBB
Omnibus Law Diklaim Kurangi Tumpang Tindih Aturan di Sektor Pertambangan

Ketua Regulator Pasar AS Mulai Wanti-wanti Risiko Utang Perusahaan

Ketua Regulator Pasar AS Mulai Wanti-wanti Risiko Utang Perusahaan Jay Clayton, Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS (Foto: Reuters/Shannon Stapleton)

Pantau.com - Ketua regulator pasar Amerika Serikat pada Senin (9 September 2019) mengeluarkan peringatan atas risiko-risiko pasar, termasuk meningkatnya utang perusahaan, penarikan Inggris dari Uni Eropa, dan transisi jauh dari tingkat suku bunga pinjaman utama.

Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) Jay Clayton mengatakan pada audiensi di New York bahwa ia sangat prihatin dengan pertumbuhan utang perusahaan-perusahaan, yang katanya telah dipupuk dalam satu dekade kebijakan moneter yang akomodatif.

Di Amerika Serikat, utang perusahaan-perusahaan mencapai hampir 10 triliun dolar AS, hampir 50 persen dari PDB, katanya.

"Itu angka-angka yang harus menarik perhatian kita," kata Clayton.

Baca juga: Perusahaan yang Bangkrut Tapi Kembali Berjaya, Nomor 3 Jadi Legenda

Pasar obligasi korporasi AS, yang terbesar di dunia, telah menawarkan tingkat pengembalian yang kuat, terutama bagi investor asing, walaupun Clayton menambahkan ada tanda-tanda bahwa pengembalian itu mungkin melambat.

"Kita harus menyadari apa yang dikatakan harga dan pergerakan harga di pasar utang korporasi. Misalnya, berdasarkan total pengembalian, sisi atas menjadi lebih terbatas sementara sisi negatifnya belum membaik," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa SEC bersama dengan regulator lainnya harus memantau aliran masuk dan keluar dari dana-dana kredit, dan karakteristik portofolio termasuk konsentrasi, likuiditas dan leverage.

Clayton juga mengatakan bank-bank AS harus menilai eksposur mereka pada tingkat penawaran antar bank London, yang dikenal sebagai Libor, menjelang tenggat waktu 2021 untuk transisi dari suku bunga pinjaman. Dia mengatakan bahwa industri harus memutuskan bagaimana secara aktif mengelola risiko-risiko itu.

Baca juga: Harga Minyak Anjlok, Raja Salman Ganti Menteri Energi dengan Putranya

Mantan pengacara Wall Street itu, juga menandai risiko-risiko potensial yang dipicu oleh perceraian Inggris yang berpotensi berantakan dari Uni Eropa tanpa masa transisi. Dia mengatakan lembaganya sedang menyusun rencana untuk menanggapi setiap dampak potensial dari "Brexit tanpa kesepakatan," tetapi bahwa perusahaan-perusahaan juga memiliki peran yang harus disiapkan untuk kejatuhan itu.

"Saya mendorong penerbit, perusahaan jasa keuangan, dan pelaku pasar lainnya untuk melawan rasa puas diri dan kelelahan yang endemik terhadap situasi jenis ini. Saya mendorong anda untuk terus mempersiapkan diri dan memberi tahu investor Anda tentang dampak potensial Brexit," pungkasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi