Pantau Flash
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil
KPU dan Kemendagri Sedang Siapkan Protokol Kesehatan Tahapan Pilkada 2020

Kinerja Perdagangan Membaik, Ekspor Juli 2019 Naik dan Impor Turun

Headline
Kinerja Perdagangan Membaik, Ekspor Juli 2019 Naik dan Impor Turun Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan, kinerja perdagangan mulai membaik. Hal ini ini ditandai dengan kinerja ekspor Juli 2019 yang mengalami kenaikan dan impor Januari-Juli 2019 yang mengalami penurunan. Ekspor Juli 2019 tercatat sebesar USD15,5 miliar atau naik 31,0 persen dibanding bulan sebelumnya (MoM).

"Peningkatan ekspor disebabkan peningkatan ekspor migas sebesar 115,2 persen (MoM) dan peningkatan ekspor nonmigas sebesar 25,3 persen (MoM)," kata Enggar.

Ia menyampaikan, secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2019, ekspor nonmigas tercatat sebesar USD88,1 miliar atau turun 6,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Namun, penurunan ini sedikit lebih baik dibanding periode Januari-Juni 2019 yang turun 8,6 persen.

Selanjutkan, selama periode Januari-Juli 2019, ekspor seluruh sektor mengalami pelemahan. Sektor migas adalah sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu turun 21,8 persen (YoY), sementara tahun sebelumnya meningkat 12,4 persen (YoY). Ekspor sektor pertambangan turun 17,1 persen, sementara tahun lalu naik 37,5 persen; sektor industri turun 4,3 persen, tahun lalu naik 6,9 persen; sektor pertanian turun 0,2 persen (YoY), sementara tahun lalu juga turun 7,5 persen.

Baca juga: Kursi Pemimpin IMF Kosong, Muncul Upaya Hapus Batasan Usia Jadi Persyaratan

Pelemahan kinerja ekspor Januari-Juli 2019 disebabkan oleh faktor tekanan harga beberapa komoditas utama Indonesia di pasar internasional, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO).

"Kondisi global masih menekan kinerja ekspor nonmigas selama Januari-Juli 2019," jelasnya.

Secara keseluruhan, penurunan ekspor nonmigas selama Januari-Juli 2019 juga dipicu melemahnya ekspor ke 10 besar negara tujuan utama, kecuali Malaysia dan Vietnam yang naik masing-masing sebesar 0,5 persen dan 20 persen.

Adapun kinerja impor selama bulan Juli 2019 tercatat sebesar USD 15,5 miliar, atau turun 15,2 persen dibanding Juli 2018 (YoY), namun meningkat 35,0 persen dibanding Juni 2019 (MoM). Secara kumulatif, selama Januari-Juli 2019, total impor Indonesia mencapai USD 97,7 miliar, atau mengalami penurunan 9,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 107,3 miliar.

"Penurunan impor Januari-Juli 2019 dipicu permintaan impor migas yang turun sebesar 24,4 persen dan nonmigas turun 6,2 persen," tegasnya.

Baca juga: Dear Jeff Bezos... Amazon Dikritik Pelanggan Soal Bungkus Plastik Nih

Penurunan impor periode Januari-Juli 2019 tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan impor seluruh golongan barang. Impor barang konsumsi turun sebesar 10,2 persen, impor bahan baku/penolong turun 9,5 persen, dan impor barang modal turun 5,7 persen. Barang konsumsi yang impornya mengalami penurunan signifikan, antara lain bahan bakar dan pelumas olahan (31,7 persen), makanan dan minuman olahan (24,8 persen), serta alat angkutan bukan untuk industri (21,1 persen).

Sementara itu, neraca perdagangan bulan Juli 2019 tercatat masih mengalami defisit sebesar USD63,5 juta yang disebabkan defisit neraca perdagangan migas. Perdagangan nonmigas tercatat sebesar USD78,9 juta, sedangkan neraca perdagangan migas tercatat sebesar USD142,4 juta.

Lebih lanjut, Enggar menjelaskan, negara-negara mitra dagang seperti China, Thailand, Jepang, Italia, dan Australia menyebabkan defisit nonmigas terbesar pada bulan Juli 2019 dengan jumlah mencapai USD2,72 miliar. Sementara Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda, dan Malaysia menjadi negara mitra yang menyumbang surplus nonmigas terbesar pada Juli 2019 dengan jumlah mencapai USD2,38 miliar.

"Secara kumulatif, defisit selama Januari-Juli 2019 masih cukup besar yakni mencapai USD1,9 miliar. Defisit tersebut disebabkan besarnya defisit pada neraca perdagangan migas yang mencapai USD4,9 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas menyumbang surplus sebesar USD3,0 miliar," pungkas. 

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: