Konsumsi Rumah Tangga Melambat, Ini Kata Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Pantau.com/Ratih Prastika)Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan konsumsi rumah tangga yang tercatat melambat pada 2017, antara lain disebabkan tekanan inflasi. Daya beli masyarakat dinilai tergerus inflasi atau kenaikan harga sejumlah barang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2017, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 56 persen. Hanya saja, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat hanya 4,95 persen. Hal ini lebih dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,01 persen.

Sri Mulyani mengatakan, itulah pemerintah memandang perlunya menjaga daya beli masyarakat. “(Tahun ini) tetap pesan tetap sama menjaga daya beli masyrarakat melalui inflasi yang rendah,” kata Sri Mulyani, Selasa (6/2/2018).

Tahun lalu, pemerintah menargetkan pertumbuahan ekonomi 5,2 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tahun ini dipatok 5,4 persen. Ia menjelaskan, dengan adanya sejumlah program diharapkan dapat meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat terutama di daerah. 

“Kegiatan pemerintah yang dapat meningkatkan kemampuan dari masyarakat seperti transfer untuk keluarga miskin harus tepat waktu dan tahun ini jumlahnya cukup besar. Seperti PKH (program keluarga harapan) yang dinaikkan sampai 10 juta keluarga itu diharapkan dapat meningkatkan daya beli pada level yang tengah,” papar Sri Mulyani.

Di sisi lain, Sri meminta masyarakat menengah atas dapat membantu pemerintah mendorong pertumbuhan khususnya yang terkait dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perkembangan ekonomi positif. Besaran nilai ekspor dan nilai investasi, diyakini dapat menambah kepercayaan masyarakat.

Sri Mulyani menambahkan, pemerintah akan berupaya menjaga momentum pertumbuhan investasi yang saat ini pertumbuhannya sudah di atas 6 persen. Untuk itu, sambung Sri, ekspor bakal diupayakan menjaga pertumbuhannya stabil di atas 8 persen. 

“Investasi diharapkan bisa tetap bertahan atau tumbuh di atas 7 persen. (hal ini akan) menimbulkan confidence di kelas menengah dan mereka akan meningkatkan daya beli lagi,” katanya.

Tim Pantau