Pantau Flash
Erick Thohir: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terus Jalan
Warga Padang Dilarang Keluar Malam dari Pukul 22.00-06.00 WIB
Kota Tegal Resmi Karantina Wilayah
Olahraga Indonesia Fokus Menangani COVID-19
Pemprov Jabar Resmi Keluarkan Maklumat Larangan Mudik dan Piknik

Meski Perang Dagang Memanas, Ekonomi Domestik Indonesia Terjaga

Meski Perang Dagang Memanas, Ekonomi Domestik Indonesia Terjaga Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Pantau.com - Indonesia setidaknya bisa sedikit bernapas lega lantaran parameter ekonomi domestik cukup terjaga di tengah peningkatan ketidakpastian global karena eskalasi perang dagang. Hal itu disebabkan, berdasarkan catatan Bank Indonesia aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejak awal 2019 hingga 8 Agustus mencapai Rp179,6 triliun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan aliran modal asing tersebut terdiri atas Rp113,7 triliun yang diserap pemerintah melalui surat berharga negara dan Rp65,9 triliun masuk ke pasar saham.

"Itu memperlihatkan kepercayaan investor pada ekonomi Indonesia baik prospeknya, stabilitasnya, maupun kebijakan-kebijakan yang ditempuh BI, pemerintah, dan OJK masih cukup baik," kata Perry di Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Baca juga: 3 Poin Utama Transformasi Ekonomi Menurut Gubernur Bank Indonesia

Perry mengungkapkan pasar keuangan domestik sempat tertekan akibat peningkatan ketidakpastian risiko global karena eskalasi perang dagang. Di pasar saham bahkan sempat terjadi arus modal keluar karena investor berpindah untuk memburu aset keuangan di negara yang paling minim risiko.

Hal itu terjadi ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor sebesar 10 persen untuk komoditas impor asal China sebesar 300 miliar dolar AS yang kemudian dibalas oleh China dengan penghentian perusahaan China untuk membeli produk pertanian dari AS serta dugaan memanipulasi kurs mata uang Yuan.

"Itu biasa terjadi karena investor ada yang keluar masuk. Tapi investor menengah panjang tetap memberikan modal asing masuk ke Indonesia," lanjut dia.

Baca juga: JK Ultimatum Mendag Enggartiasto Soal Perdagangan Bebas Indonesia

Selain itu, tekanan ketidakpastian global juga menyebabkan premi risiko yang diukur dengan credit default swap (CDS) untuk tenor lima tahun di Indonesia sebesar 90,8 basis poin, atau sedikit meningkat dari awal Agustus 2019.

"Memang sedikit meningkat empat basis poin dari posisi sebelumnya di awal Agustus 2019. Secara keseluruhan CDS tersebut relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara ekonomi yang sepadan (peer)," kata Perry.

Perkembangan itu menunjukkan kepercayaan investor global pada ekonomi Indonesia tetap baik serta nilai tukar bergerak relatif stabil. “Kami pastikan BI selalu ada di pasar untuk stabilkan nilai tukar saat ada faktor teknikal jangka pendek,” pungkasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati

Berita Terkait: