Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

OJK Kaji Ulang Produk Investasi di Bank Antisipasi Kasus Semacam Jiwasraya

OJK Kaji Ulang Produk Investasi di Bank Antisipasi Kasus Semacam Jiwasraya Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. (Foto: Antara)

Pantau.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengkaji ulang penjualan produk investasi melalui bank. Diantaranya produk kerja sama perusahaan asuransi dengan perbankan atau bancassurance menyusul terjadinya kasus Jiwasraya.

"Ini harus diluruskan ke depan mana saja instrumen yang bisa dijual melalui bank. Kalau itu proteksi bolehlah, kalau investasi nanti dulu akan kami lihat instrumen investasi apa yang boleh dijual di bank," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam CNBC Economic Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (26/2/2020).

Baca juga: Perusahaan Asuransi Wajib Miliki Direktur Kepatuhan, jika Tidak...

Menurutnya, tidak ada produk reksa dana yang memberikan jaminan imbal hasil karena selain dari harga, instrumennya termasuk saham itu juga kerap mengalami gejolak atau volatile. OJK tidak menghapus produk tersebut, namun meminta agar skema diubah menjadi non guaranteed return.

"Bukan dibubarkan, dia yang skema produk itu tolong dikembalikan dulu, abis itu jadi kontrak baru menjadi non guarantee return," katanya.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung menyebut potensi kerugian negara dari kasus gagal bayar Jiwasraya mencapai Rp13,7 triliun. Potensi kerugian itu timbul karena adanya tindakan melanggar prinsip tata kelola perusahaan menyangkut pengelolaan dana yang dihimpun melalui program asuransi saving plan.

Baca juga: Nasabah Jiwasraya Kembali Datangi OJK Bahas Klaim Pembayaran

Produk tersebut menawarkan bunga yang tinggi hingga 13 persen. Adapun penempatan Investasi asuransi BUMN itu di antaranya saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial.

Dari jumlah itu, sebesar 5 persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik dan 95 persen ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Selain itu, korporasi juga berinvestasi di reksadana sebanyak 59,1 persen persen senilai Rp14,9 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak 98 persen dikelola manajer investasi berkinerja buruk.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: