Pantau Flash
Wagub DKI Jakarta Rangkul Ormas untuk Jaga Stabilitas Ibu Kota, Sebut Bentuk Kolaborasi dengan Pemerintah
Pemerintah Turunkan Harga PCR Rp275 Ribu, Langsung Berlaku Mulai Hari Ini
Ribuan Ormas di Jakarta Deklarasikan Diri untuk Amankan Ibu Kota pada Pemilu 2024
Sah! Harga PCR Resmi Turun Jadi Rp275 Ribu, di Luar Jawa-Bali Rp300 Ribu
Ada Unsur Pidana, Kasus Kaburnya Rachel Vennya dari Karantina Naik ke Penyidikan

Pasca Gempa 2018, Bandara Lombok Alami Penurunan Jumlah Penumpang

Pasca Gempa 2018, Bandara Lombok Alami Penurunan Jumlah Penumpang Ilustrasi bandara. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat, alami penurunan jumlah penumpang yang datang dan berangkat hingga 24 persen.

PT Angkasa Pura I (Persero) mengatakan penurunan jumlah penumpang itu terjadi selama Januari-Oktober 2019 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Penurunan jumlah penumpang pesawat tersebut terjadi setelah gempa bumi NTB pada 2018," kata General Manager Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok, Nugroho Jati, di Mataram, Selasa (26/11/2019). 

Baca juga: Bandara APT Samarinda Ditutup hingga 15 Desember 2019

Ia menyebutkan jumlah penumpang pesawat yang datang dan berangkat dari bandara sebanyak 2.317.620 orang selama Januari-Oktober 2019. Angka itu turun dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebanyak 3.059.778 orang.

Sementara jumlah penerbangan sebanyak 22.418 kali selama Januari-Oktober 2019. Jumlah tersebut berkurang sebesar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 31.236 penerbangan.

Berkurangnya jumlah penumpang dan penerbangan juga diikuti dengan menurunnya volume kargo. Selama Januari-Oktober 2019, jumlah volume kargo yang diangkut oleh pesawat mencapai 7.930.442 kilogram. Angka tersebut berkurang 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain faktor gempa bumi, kata Nugroho, penurunan jumlah penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan juga dipengaruhi harga tiket pesawat yang dianggap mahal oleh konsumen. Ditambah lagi dengan kebijakan maskapai penerbangan yang memberlakukan bagasi berbayar.

"Masalah harga tiket pesawat mahal dan bagasi berbayar sempat ramai. Itu juga mempengaruhi jumlah orang bepergian menggunakan pesawat. Kalau penurunan volume kargo terkait dengan produksi dan konsumsi barang di Lombok," ujarnya.

Menurut dia, untuk meningkatkan arus penumpang dan frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok diperlukan upaya bersama, baik oleh Angkasa Pura I, pemerintah daerah dan pemerintah pusat, serta pihak lainnya.

Angkasa Pura I sendiri tetap komitmen untuk menciptakan pasar rute-rute penerbangan baru, baik domestik maupun luar negeri. Salah satunya membuka rute penerbangan langsung untuk jamaah umroh dari Lombok ke Jeddah, Arab Saudi.

Baca juga: Christian Sugiono Dukung Lombok Jadi Wisata Halal

Dari sisi pemerintah, lanjut Nugroho, perlu diperbanyak penyelenggaraan kegiatan, seperti penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah daerah dengan kementerian/lembaga, dan berbagai pertemuan lainnya yang memicu pertumbuhan angka kunjungan ke Lombok.

"Saya kira semua pihak sudah punya upaya sesuai ruang lingkup masing-masing. Dan saya yakin pertumbuhan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok terus membaik seiring dengan proses pemulihan pascagempa bumi," katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Lilis Varwati