Pantau Flash
Kemenkes Khawatir WNI di Diamond Princess Terjangkit Korona Tanpa Gejala
Kemenhub Siapkan Payung Hukum untuk Sepeda Listrik
China Pecat Sejumlah Pejabat Pasca Pasien Korona di Penjara Meningkat
WNI yang Dievakuasi dari Kapal Diamond Princess Langsung Dikarantina
Persija Hadapi Tim Singapura dalam Tajuk 'The Dream Team'

Pedagang Hasil Laut Sulit Jualan Akibat Virus Korona

Pedagang Hasil Laut Sulit Jualan Akibat Virus Korona Ilustrasi nelayan. (Foto: Antara)

Pantau.com - Pedagang hasil laut dari Galesong Kabupaten Takalar mengeluhkan kesulitan untuk melakukan penjualan diduga karena dampak wabah virus Korona.

Seorang pedagang asal Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, Sulsel Kartini Razak di Takalar, Jumat, mengungkapkan kesulitan penjualan hasil laut terjadi setelah isu virus corona mencuat. Tidak ada pembeli maupun pengiriman yang dinilai sangat susah.

"Memang tidak ada pembeli, karena pelemparan hasil laut banyak ke China dan di sana banyak permintaan dibanding dari Korea dan Jepang," ujarnya.

Baca juga: Cegah Virus Korona, Garuda Semprot Pesawat dengan Cairan Khusus

Beberapa jenis hasil laut yang diperdagangkan berupa rumput laut, teripang hingga ikan laut. Kartini menyatakan kalaupun ada pembelian hasil laut, harganya sangat rendah. Seperti rumput laut yang sebelum wabah virus corona harganya mencapai Rp24.000 per kilogram, saat ini turun menjadi Rp18.000 per kilogram.

Padahal, kata dia, harga yang diambil di lapangan tepatnya di sekitar pulau Maluku mencapai Rp17.000. Alhasil mengakibatkan kerugian sekitar Rp50 juta. Sebab untuk menjangkau pulau tersebut membutuhkan ongkos berupa bahan bakar yang banyak.

Kendati demikian, harga saat ini dinilai mulai berangsur-angsur membaik meski diakui belum stabil. "Harga terakhir rumput laut sudah Rp20 ribu, tapi ini belum normal karena biaya belinya di petani rumput laut itu tetap seperti biasa, tidak turun," katanya.

Senada, seorang pedagang teripang asal Galesong Kabupaten Takalar, Riswandi mengaku dirinya kesulitan mencari pembeli teripang, akibatnya usahnya tersendat dan tidak sedikit teripang yang telah dibeli timbangannya menyusut.

"Kalau pencari teripang banyak di pulau, tetapi yang beli ini yang susah. Kalau ada harga belinya rendah sekali. Hasilnya kita yang rugi. Ini begini setelah ada virus corona. Katanya tidak ada pengiriman dan pembeli dari China sementara waktu," papar Wandi, sapaannya.

Baca juga: Hindari Wabah Virus Korona, Kapal China Akan Diperiksa Sebelum Berlabuh

jenis teripang atau yang juga disebut timun laut yakni koro, binti, nenas dan kapok beserta masing-masing ukurannya yakni besar atau kecil. Harga jual barang ini dibedakan pula pada status basah atau kering saat dijual.

Wandi mengatakan harga semua jenis teripang tersebut saat ini turun sekitar Rp50.000 - Rp60.000/kg. Seperti teripang koro sebagai jenis teripang dengan harga tertinggi sering dibanderol Rp500.000/kg, kini hanya  Rp435.000 per kilo

"Kita berharap virus corona ini tidak terus mewabah karena dampaknya ke kami pedagang hasil laut dan juga nelayan kecil," katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Category
Ekonomi

Berita Terkait: