Pantau Flash
Pemkot Surabaya Diharapkan Bisa Beli Mobil PCR Seharga Rp10 Miliar
Coppa Italia Jadi Pembuka Kompetisi Sepakbola di Italia
Kemenperin Berkomitmen Kawal Investasi di Indonesia
Nissan Pastikan Tutup Pabrik di Indonesia
Pemerintah Segera Terbitkan Protokol Latihan dan Kompetisi Olahraga

Pemilu dan Ramadan Jadi Amunisi Pemerintah Tingkatkan Pertumbuhan

Pemilu dan Ramadan Jadi Amunisi Pemerintah Tingkatkan Pertumbuhan Ilustrasi (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Core Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 akan mencapai 5,2 persen. Ekonom Senior Core Indonesia, Hendri Saparini mengatakan ada beberapa momentum yang mendorong pertumbuhan.

"Semester I akan didrive oleh Pemilu, dan semester II akan didrive oleh lebaran dan Ramadan. Jadi kita punya kesempatan untuk mempertahankan atau mengawali pertumbuhan ekonomi di semester ini," ujarnya saat ditemui dalam acara 100 ekonom perempuan, di Century Park, Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Pasalnya kata dia, 60 persen kontribusi pertumbuhan ekonomi RI masih disumbang oleh sektor konsumsi. Sehingga tak salah jika kedua momentum tersebut menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi tahun 2019. 

Baca juga: Hmm... MRT Rp8.500 vs Transjakarta Rp3.500, Kalian Pilih Mana?

"Kita 60 persen masih konsumsi, jadi mau tidak mau tidak bisa katakan kenapa masih konsumsi. Itu yang harus kita sukuri, karena di China pun masyarakatnya didorong untuk konsumsi, agar ekonomi mereka juga didrive oleh konsumsi," terangnya. 

Sehingga kata dia, yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah saat ini adalah mendongkrak investasi dan ekspor yang masih cenderung masih tumbuh namun melambat. 

"Yang harus kita lakukan, konsumsi tidak perlu dikurangi, tetapi yang harus kita dorong bagaimana investasi dan ekspor itu mengikuti pertumbuhan yang tinggi sebagaimana konsumsi. Sehingga sumber-sumber pertumbuhan kita akan merata dari berbagai sektor," katanya. 

Baca juga: Bulog Diminta Waspada Soal Rencana Impor 100.000 Ton Bawang Putih

Sekang kata dia, investasi sudah mulai membaik, bahkan investasi nonkonstrukti lebih tinggi dari yang konstruksi. Sehingga kata dia, tinggal mencari peluang yang tepat akan digunakan untuk apa investasi tersebut.

"Kalau mereka sudah tumbuh, marketnya di mana, maka bagaimana dengan kebijakan perdagangannya. Kalau mereka mau ekspor, di mana mereka bisa menjual, dukungan apa yang bisa dilakukan agar mereka bisa melakukan penetrasi pasar baru," pungkasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika

Berita Terkait: