Pantau Flash
Hasil Survei: Ahok Unggul Atasi Banjir-Macet Ketimbang Anies
Ahsan/Fajar Bawa Indonesia Juara Badminton Asia Team Championships 2020
Andre Rosiade Grebek Prostitusi Online, Gerindra: Itu Tidak Salah
5.518 SPBU Akan Dipasang Digital Nozzle
Menko Luhut Beberkan Upaya Indonesia Tekan Defisit Perdagangan

Penasihat Keamanan Nasional AS Kok Sewot Sama Praktik Dagang China-Ukraina

Penasihat Keamanan Nasional AS Kok Sewot Sama Praktik Dagang China-Ukraina Bendera China (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Entah ada angin apa, tiba-tiba penasihat keamanan nasional Amerika John Bolton mengatakan dia telah membahas keprihatinan Washington dengan ancaman akibat praktik perdagangan China yang tidak fair dengan pejabat Ukraina selama lawatannya ke Kiev.

Ketika ditanya tentang kemungkinan akuisisi bisnis pertahanan Ukraina Motor Sich oleh China, Bolton mengatakan, dia tidak bersedia membahas bisnis yang spesifik dan transaksi seperti itu ada dalam lingkup kedaulatan Ukraina, demikian dilaporkan oleh Reuters. Tetapi dia menjelaskan bahwa pemerintah Amerika tidak setuju dengan transaksi itu.

"Kami sudah membeberkan keprihatinan kami tentang praktik perdagangan China yang tidak fair, ancaman terhadap keamanan nasional seperti yang kita saksikan di Amerika Serikat," kata John Bolton.

Baca juga: China Tunggu Undangan Pembahasan Tarif Baru AS, tapi Nihil Sampai Sekarang

Berbicara kepada RFE/RL di Kiev, Bolton mengatakan, kemungkinan penjualan Motor Sich, produsen mesin untuk misil, helikopter dan pesawat jet kepada China merupakan sebuah isu yang menurut saya signifikan untuk Ukraina, dan juga signifikan untuk Amerika, Eropa, Jepang, Australia, Kanada, dan negara-negara lain.

Dia menuduh China menggunakan surplus perdagangannya untuk menekan negara-negara lain di dunia, dan meraih keuntungan dari teknologi pertahanan yang dikembangkan oleh pihak lain.

Sebelumnya, media Ukraina melaporkan, dua perusahaan China telah mencapai kesepakatan dengan BUMN militer Ukraina, Ukroboronprom, untuk secara bersama-sama membeli Motor Sich.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: