Pantau Flash
Bank Indonesia: Cadangan Devisa Cukup Penuhi Kebutuhan
Komisi I DPR: Pelibatan TNI dalam PSBB Diperlukan
Son Heung-min Latihan Perang Kimia
Baleg DPR Agendakan Raker dengan Pemerintah Sebelum Bahas RUU Ciptaker
PSBB DKI Jakarta Berlaku Mulai Jumat 10 April 2020

Senior Sri Mulyani Angkat Bicara Soal Buruknya Neraca Perdagangan RI

Headline
Senior Sri Mulyani Angkat Bicara Soal Buruknya Neraca Perdagangan RI Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri (batik biru) (Foto: Instagram/Chatib Basir)

Pantau.com - Badan Pusat Statistika mencatat defisit neraca perdagangan RI yang terjadi sepanjang 2018, yakni mencapai USD 8,57 miliar atau mencapai Rp 119 triliun. Angka tersebut merupakan terburuk sejak 1975.

BPS mencatat sumber utama berasal dari defisit di sektor migas, yang secara nominal mencapai defisit migas tahun 2018 mencapai USD 12,4 milyar, sedangkan non migas mengalami surplus USD 3,8 miliar. 

Menggapi hal tersebut, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri memberikan kicauan melalui media sosial Twitter. Ia mencatat bahwa sektor non migas juga harus diberi perhatian. 

Baca juga: Waduh! Faisal Basri: Ada Menteri Buat 'Jalan Tol' Muluskan Impor, Siapa?

Pasalnya kata dia, Surplus non migas tahun 2017 adalah mencapai USD 20,4 milyar, sedangkan tahun 2018 tinggal USD 3,8 miliar.

"Sekilas kita melihat migas lah penyebabnya. Namun saya setuju dengan rekan dan guru saya di FEUI dulu @FaisalBasri, yang juga harud diperhatikan adalah non migas. Mengapa? Surplus non migas tahun 2017 adalah USD 20,4 milyar, sedangkan tahun 2018 tinggal USD 3,8 milyar," ujarnya seperti dikutip dari akun Twitter resmi M. Chatib Basri @ChatibBasri, Rabu pagi, (16/1/2019).

Baca juga: Komentar Nyelekit Rizal Ramli Buat Menteri Jokowi: Doyan Impor

"Artinya terjadi penurunan surplus sebesar USD 16,6 miliar. Sedang dalam migas, kenaikam defisit yg terjadi relatif kecil yaitu USD 3,9 miliar. Disinilah kita harus memperhatikan sumbernya," ungkapnya.

Lebih lanjut kata dia, untuk ekspor non migas tahun 2018, tumbuh sebesar 6,2 persen dan migas 2018 tumbuh sebesar 10,1 persen. Sementara impor migas dan non migas, masing-masing tumbuh sebesar 22,6 persen dan 19,7 persen.

"Pertumbuhan impor migas lebih besar dari non migas namun pertumbuhan ekspornya juga lebih besar dari non migas," katanya. 

Chatib Basri juga menilai, bahwa sekitar 90 persen dari impor itu adalah bahan baku dan barang modal. Sehingga secara konseptual perlu khawatir karena impor ini adalah impor barang produktif (bukan konsumsi) yang akan menghasilkam produksi. 

"Namun yang perlu menjadi perhatian dan pertanyaan adalah mengapa impor barang modal dan bahan baku naik terus namun pertumbuhan ekonomi tetap stagnan di 5 persen? Soal waktu kah? Karena ada senjang waktu dalam proses produksi? Atau inefisiensi?" tulisnya. 

Baca juga: Catat Sejarah! Neraca Perdagangan 2018 Alami Defisit Terbesar

Dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) atau rasio antara investasi di tahun yang lalu dengan pertumbuhan output yang saat ini sebesar 6,1 kata dia, memang terlihat bahwa untuk menghasilkan 1 persen pertumbuhan ekonomi dibutuhkam 6,1 persen investasi/PDB. Ini relatif tinggi. Artinya untukk menghasilkan output dibutuhkan modal yang tinggi.

Ia mencatat, bisa disebabkan oleh 2 hal: Indonesia banyak sekali mengimpor barang modal dan bahan baku (untuk infrastruktur dan sebagainya) yang belum memberikan hasil (karena butuh waktu), atau memang produktifitas Indonesia rendah.

Dengan ini kata dia, reformasi ekonomi di sektor mutlak diperlukan. Karena jika terus dibiarkan maka Indonesia akan terus terperangkap.

"Dan inilah issue terbesar kita: produktifitas. Peningkatan produktiftas hanya bisa dilakukan dengan reformasi ekonomi di sektor riil. Tanpa itu kita akan terus terperangkap. Dan yang membahayakan walau denga impor barang modal dan bahan baku yg tinggi, pertumbuhan nyaris tak bergerak," katanya. 

Baca juga: Jauh Sebelum Freeport! Merekalah Penemu Tambang Terbesar di Indonesia

Yang menarik imbuhnya, walau defisit mencapai rekor, namun rupiah kemarin tercatat stabil. Menurutnya, ini memperkuat argumennya, bahwa dalam soal nilai tukar, Indonesia juga harus melihat  capital account.

Rupiah akan melemah jika current account deficit (defisit transaksi berjalan) yang dibiayai portfolio mendorong capital outflow (arus modal keluar) akibat Fed. 

"Issuenya adalah arus modal portfolio yang mudah berpindah karena ia peka oleh gejolak eksternal seperti kebijakan the Fed. Saat ini, krn the Fed tampaknya akan “bersabar” maka walau defiist neraca dagang mencapai rekor tapi dampak thd rupiah terbatas, kecuali nanti Fed kembali agresif," ungkapnya.


Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika

Berita Terkait: