Pantau Flash
Sean Connery, Pemeran James Bond Meninggal di Usia 90
Milenial Jangan Dimanja Tuai Pro dan Kontra, Megawati Santai
Jakarta sebagai Kota Terbaik Dunia dalam STA 2021, Anies: Alhamdulillah
Presiden Jokowi Kecam Pernyataan Emmanuel Macron yang Hina Islam
1 Tahun Pengabdian, Mendes PDTT Peroleh Penghargaan IPB

Soal COVID-19, Faisal Basri: Ekonomi Bisa Pulih tapi Nyawa Tidak

Headline
Soal COVID-19, Faisal Basri: Ekonomi Bisa Pulih tapi Nyawa Tidak Pengamat Ekonomi, Faisal Basri. (Foto: Pantau.com)

Pantau.com - Ekonom Faisal Basri menegaskan, kasus positif COVID-19 yang kian bertambah harus segera dikendalikan. Ia menyoroti perbandingan pertumbuhan 50.000 kasus pertama dengan kasus saat ini.

"50.000 kasus pertama butuh penyebaran selama 115 hari, sementara kasus menjadi 250.000 hanya membutuhkan 14 hari saja," ujar Faisal dalam Webinar Nasional Seri 2 KSDI bertajuk "Strategi Menurunkan COVID-19, Menaikkan Ekonomi" di Jakarta.

Baca juga: Wacana Pembentukan Dewan Moneter, Faisal Basri: Apa Salahnya Moneter Ini?

Faisal menyampaikan, apabila hal ini tidak ditangani, maka tidak bisa dipungkiri angka kasus bisa mencapai 1 juta. "Kasus naik, maka angka kematian juga naik. Ekonomi bisa pulih, tapi nyawa manusia tidak bisa dipulihkan," tambah Faisal.

Ia melanjutkan, testing kesehatan di Indonesia yang rendah tidak bisa dijadikan alasan. Selain itu, belum ada Perppu khusus yang menangani COVID-19, hanya ada Perppu yang menangani APBN dan sektor keuangan.

"Virus ini sangat bahaya sekali sehingga butuh panglima perang yang harus full time dan bukan kerja sambilan. COVID-19 ini sumber utama ketidakpastian," lanjutnya.

Baca juga: Faisal Basri Soal Resesi Ekonomi: Ayo Kita Persiapkan Kondisi Terburuk Ini

Ekonom INDEF ini juga menyebutkan, kepercayaan masyarakat dan dunia usaha juga bergantung pada upaya pemerintah mengendalikan pandemi ini.

"Jika pemerintah mampu mengendalikan wabah dengan serangkaian tindakan dan langkah yang terukur, serta jujur, maka akan tumbuh confident masyarakat dan dunia usaha," pungkasnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: