Pantau Flash
Pratikno: Janagan Ribut Lagi Soal Reshuffle, Progres Kabinet Berjalan Bagus
TransJakarta Uji Coba Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M
Pencairan Gaji ke-13 PNS Masih 'Mengambang'
Tinjau Penanganan COVID-19, Doni hingga Menkes Terawan Sambangi Papua Barat
Komnas Anak Layangkan Panggilan ke-2 pada Lembaga Pimpinan Anies Baswedan

Sri Mulyani Klaim Kondisi Ekonomi Indonesia Stabil, Pertumbuhan Positif

Headline
Sri Mulyani Klaim Kondisi Ekonomi Indonesia Stabil, Pertumbuhan Positif Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rakat kerja dengan agenda evaluasi kinerja 2019 dan rencana kerja 2020 bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (4/11/2019). (Foto: Antara/Sella Panduarsa Gareta)

Pantau.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia relatif stabil di tengah ketidakpastian global tahun ini yang tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif stabil di atas 5 persen. Sementara negara tetangga kita Singapura itu sempat mengalami pertumbuhan negatif, terakhir hanya 0,1 persen. Vietnam masih cukup tinggi meskipun juga terjadi pelemahan dikit,” kata Menkeu saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI  di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Baca juga: Sri Mulyani Lempar Pertanyaan ke Siswa SD, Jawabannya buat Geger!

Pada kesempatan tersebut, Menkeu memaparkan perekonomian dunia mengalami tekanan cukup berat, yang terlihat dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2019 yang turun sekitar 0,7 persen, dari proyeksi 3,7 persen menjadi hanya 3 persen.

“Kalau menurut International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia 3 persen itu sudah masuk resesi dunia. Meskipun kalau definisi resesi ekonomi masing-masing negara adalah dua kali kontraksi dari resesi ekonominya,” ujar Menkeu.

Selain itu, lanjut Sri Mulyani, perdagangan global juga mengalami tekanan yang sangat keras, karena adanya perang dagang antara negara-negara besar, yakni Amerika Serikat, Eropa dan China.

Dengan demikian, pertumbuhan volume perdagangan dunia 2019 hanya 1,1 persen, di mana hal ini menjadi pertumbuhan perdagangan global yang terlemah sejak sebelum krisis hampir 10 tahun yang lalu.

“Risiko global yang perlu kita waspadai adalah perang dagang yang walaupun sering muncul berita kemungkinan akan ada negosiasi, namun dia masih menyelimuti ketidakpastian global,” ujar mantan Managing Director World Bank ini.

Baca juga: Sri Mulyani Akui Ekspor Belum Berikan Kontribusi pada Perekonomian RI

Jika melihat pertumbuhan ekonomi di banyak negara, lanjut Sri Mulyani, beberapa mengalami penurunan, bahkan Amerika Serikat yang termasuk dalam kategori kuat dari sisi pertumbuhan ekonomi, tak terelakkan mengalami perlambatan akibat kondisi tersebut.

Jerman bahkan mengalami pertumbuhan negatif, meskipun terakhir hanya tumbuh 0,4 persen. Sementara Tiongkok yang biasanya tumbuh 7 persen, diperkirakan hanya akan mencapai pertumbuhan 5,5 persen hingga akhir 2019.

“Eropa, Inggris, Jepang dan India bahkan merosot tajam di kisaran 5 persen. Thailand juga terpengaruh, Filipina juga begitu,” ungkap Menkeu.

Dalam kondisi tersebut, kendati pertumbuhan Indonesia relatif stabil, namun tetap perlu mewaspadai kondisi tersebut. “Jadi, di berbagai belahan dunia, pertumbuhan ekonomi mengalami pelemahan. Dan itulah yang tetap perlu kita waspadai,” pungkas Sri Mulyani.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - TIH

Berita Terkait: