Pantau Flash
Berbeda dengan Muhammadiyah, PBNU Tetap Ikut POP Kemendikbud
Bukan 29 tapi 31 Perkantoran di DKI Dinyatakan Ditutup Akibat COVID-19
8 Anggota Paskibraka akan Kibarkan Merah Putih di Istana pada HUT RI
Bio Farma Lakukan Uji Klinis Tahap Ketiga Vaksin COVID-19 Hari Ini
Kasus Positif COVID-19 di RI Mencapai 118.753 per 6 Agustus 2020

Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bukan dari Utang

Headline
Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bukan dari Utang Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (Foto: Antara)

Pantau.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyatakan Presiden Joko Widodo memiliki target untuk membangun perekonomian Indonesia yang berkelanjutan. Namun, pemerintah tidak ingin ke depannya selalu mengandalkan utang sebagai sumber pertumbuhan.

Karena itu, pemerintah bakal terus mentransformasi kebijakan pertumbuhan ekonomi menjadi tidak datang dari utang melainkan swasta.

"Jadi nantinya sebagian besar pertumbuhan ekonomi kami tidak datang dari utang, tapi lebih dari privat sektor (swasta), sejalan dengan datangnya modal asing ke Indonesia," ujar Sri Mulyani.

Baca juga: BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh, tapi Mengalami Perlambatan

Untuk mencapai target, pemerintah memiliki prioritas untuk memperbaiki iklim investasi di Tanah Air. Salah satunya dengan memangkas banyak aturan, mengingat selama ini proses perizinan dalam berinvestasi sering terhambat.

Saat ini juga tengah disiapkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, yang mencakup sektor ketenagakerjaan hingga perpajakan. Ini dilakukan guna mendorong peningkatan investasi.

Sri Mulyani melihat, strategi di atas diharapkan Indonesia akan menjadi negara berkembang yang ekonominya tumbuh tinggi dan sehat. Serta juga tetap atraktif atau menarik bagi investor yang akan berinvestasi.

"Lewat perbaikan iklim investasi ini kami berharap bisa menyediakan ruang bagi banyak investor untuk datang ke Indonesia, baik domestik maupun asing, untuk membangun ekonomi bersama kami,"paparnya.

Baca juga: Ini 5 Alasan Kenapa Kita Tak Bisa Lepas dari Utang

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada kuartal III-2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,02 persen yoy dengan masih ditopang oleh konsumsi domestik. Porsi konsumsi rumah tangga mencapai 56,52 persen dengan tumbuh 5,01 persen yoy, sedangkan porsi investasi baru mencapai 32,32 persen dengan pertumbuhan 4,21 persen yoy.

Selain itu, pemerintah juga akan fokus untuk memperbaiki neraca pembayaran. Menurut Sri Mulyani, setiap ekonomi domestik tumbuh maka diiringi peningkatan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Hal itu diakibatkan defisit dari impor minyak dan gas (migas).

"Kami juga akan terus menjaga kondisi dari sisi ekonomi makro dengan lebih baik, meskipun saat ini kondisi ekonomi global sangat penuh tantangan. Kebijakan ekonomi makro akan terus stabil (stable enough) untuk menyediakan atau menopang fundamental guna kemajuan ekonomi kami yang lebih berkelanjutan," tukasnya.

Tim Pantau
Editor
Tatang Adhiwidharta

Berita Terkait: