Pantau Flash
Barcelona Siap Lepas Coutinho ke Chelsea
Titah Jokowi: ASN, TNI-Polri, dan Pegawai BUMN Dilarang Mudik!
Update Korona 9 April: 252 Sembuh, 280 Meninggal, dan 3.293 Positif
Sufmi Dasco: DPR RI Bentuk Satgas Lawan COVID-19
Rupiah Menguat 35 Poin, Kini Menjadi Rp16.215 per Dolar

Sri Mulyani Sikapi Hati-hati Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II yang Lampaui Target

Sri Mulyani Sikapi Hati-hati Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II yang Lampaui Target Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Kemenkeu/Indratmo Biro KLI)

Pantau.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2018 mencapai 5,27 persen, melampaui target pemerintah.

Sri Mulyani mengatakan target pemerintah pada kuartal II/2018 hanya sebesar 5,16-5,17 persen.

"Ini hasil 'domestic demand' yang kuat," kata Sri Mulyani usai dipanggil Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (6/8/2018).

Sri Mulyani mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi ini masih didorong oleh konsumsi yang tumbuh jauh lebih tinggi, yakni 5,17 persen.

Baca juga: Laju Pertumbuhan Ekonomi Maluku-Papua Tertinggi di Kuartal II 2018

"Berarti apa yang kami lakukan selama ini, seperti stabilisasi harga itu bisa menjaga," katanya.

Dia juga mengungkapkan bahwa hari raya, puasa, libur panjang Lebaran, serta tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 itu juga memberikan efek yang positif.

Namun demikian, Sri Mulyani menyoroti investasi yang masih di bawah target yang diharapkan, yang terlihat dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh di bawah 6 persen, dibanding di tiga kuartal sebelumya sekitar 7 persen.

"Itu harus kita sikapi secara hati-hati. Apakah kemarin karena libur panjang, karena dari manufaktur juga rendah, jadi mungkin ada korelasi, 'trade off' antara konsumsi yang jadi bagus, tapi manufaktur dan investasi agak lemah," terangnya.

Sri Mulyani juga menilai pekerjaan rumah ke depan adalah mendorong investasi di atas 5,2 persen agar tidak menimbulkan komplikasi dari sisi neraca pembayaran.

"Kalau ekspornya terlalu rendah dan impornya terlalu tinggi, maka pertumbuhan ekonomi akan menimbulkan tekanan pada neraca pembayaran," ungkapnya.

Baca juga: Update Deretan Harga Mobil 'Sejuta Umat' di GIIAS 2018 untuk Millennials

Dia menjelaskan bahwa yang harus dilihat pada semester II/2018 bahwa impor dari barang baku dan modal meningkat itu harus diterjemahkan investasi dan manufaktur tinggi.

"Tapi itu kan belum terlihat. Jadi mungkin munculnya di semester kedua. Jadi itu 'strong faktor-faktor' yang kita harapkan," harapnya.

Sri MUlyani berharap pemerintah akan menjaga konfiden dan konsumsinya tetap stabil di atas 5 persen serta impor baru baku dan barang modal bisa diterjemahkan dalam bentuk produksi

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: