Pantau Flash
Pelanggan Netflix dan Spotify Akan Dipungut Pajak 10 Persen
Gugus Tugas: Vaksin COVID-19 Buatan RI Diproduksi Pertengahan 2021
COVID-19 per 7 Juli: Ada 1.268 Kasus Baru, Total Positif di RI 66.226
Juni 2020, BI: Cadangan Devisa RI Naik Jadi 131,7 Miliar Dolar
Mentan: Realisasi Anggaran hingga Juli 2020 Capai 44,03 Persen

Tak Gentar Diancaman Trump, China Malah Siapkan Tarif Dagang Balasan

Tak Gentar Diancaman Trump, China Malah Siapkan Tarif Dagang Balasan Presiden AS, Donald Trump (Foto: Reuters)

Pantau.com - Pemerintah Amerika mengatakan hari Minggu (12 Mei 2019) bahwa China kemungkinan akan membalas dengan menaikkan tarif atas barang-barang impor dari Amerika, setelah Presiden Trump menaikkan dengan tajam pajak impor atas barang-barang China.

Seakan ancaman Presiden AS Donald Trump tak ada artinya bagi China. Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan kepada stasiun televisi Fox News bahwa keduanya akan rugi karena peningkatan perang dagang antara Amerika dan China itu.

Kata Kudlow, petani Amerika yang mengekspor kacang kedelai, jagung dan gandum ke China akan menghadapi pukulan paling berat. Tapi, tambahnya, pemerintahan Trump telah membantu para petani itu sebanyak 12 miliar dolar sebelum ini dalam bentuk subsidi.

Baca juga: Pemindahan Ibu Kota Negara Dapat Dukungan dari WIKA

Sementara Trump hari Jumat (10 Mei 2019) menaikkan tarif impor barang-barang buatan China yang bernilai 200 miliar dolar lebih dari dua kali lipat, dari 10 menjadi 25 persen, dan sedang mengusahakan akan mengenakan tarif impor bagi barang-barang lain bernilai 300 miliar dolar.

Dikutip VOA, Kudlow mengatakan mungkin diperlukan beberapa bulan sebelum dampak kenaikan tarif itu akan dirasakan. China sebelum ini telah mengenakan tarif impor atas barang-barang buatan Amerika bernilai 110 miliar dollar, tapi belum mengatakan bagaimana akan membalas tindakan kenaikan pajak impor yang paling baru ini.

Perundingan dagang antara kedua negara yang telah berlangsung beberapa bulan, terhenti hari Jumat (10 Mei 2019) di Washington tanpa mencapai kata sepakat apapun


Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: