Pantau Flash
Surat Edaran Kemenag: Salat Tarawih di Rumah dan Salat Id Ditiadakan
639 Jenazah Dimakamkan di DKI Jakarta Sesuai Protap COVID-19
Update COVID-19 Indonesia 6 April: 2.491 Positif, 192 Sembuh, 209 Meninggal
Dokter Klub Liga Perancis Bunuh Diri Usai Dinyatakan Positif Korona
Pemerintah: Belum Ada Wilayah yang Disetujui untuk Terapkan PSBB

Tekuak! Ini Alasan Kuat Freeport 'Menyerah' ke Pemerintah

Headline
Tekuak! Ini Alasan Kuat Freeport 'Menyerah' ke Pemerintah Kegiatan operasional di PT Freeport Indonesia (Foto: Freeport)

Pantau.com - Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menyebutkan ada beberapa alasan yang menyebabkan PT Freeport Indonesia menyetujui negosiasi dengan pemerintah Indonesia.

Menurut Pengurus IAGI Iwan Munajat dalam diskusi bertajuk "Lika Liku Akuisisi Saham Freeport", Freeport dinilainya terpenjara dengan Kontrak Karya yang mengharuskan mereka mendapat persetujuan dari pemerintah Indonesia untuk melanjutkan perpanjangan izin operasi 2x10 tahun.

"Kalau dia tidak mendapatkan izin perpanjangan, sangat sulit bagi dia bilang kepada dunia kalau dia punya tambang hingga 2041 dan mengembangkan bisnisnya," katanya.

Baca juga: Update Deretan Harga Mobil 'Sejuta Umat' di GIIAS 2018 untuk Millennials

Padahal, untuk bisa mengembangkan bisnis tambangnya, PTFI membutuhkan belanja modal yang tidak sedikit. Freeport membutuhkan pinjaman perbankan sebagai modal tambahan tetapi untuk mendapatkannya harus ada kepastian izin perpanjangan di lahan yang digarapnya.

"Biaya bikin terowongan saja mencapai 10-15 ribu dolar AS per meter. Grasberg sendiri membutuhkan terowongan 1.200 km. Jadi dia perlu uang banyak untuk mengembangkan Grasberg," katanya.

Karena alasan lemahnya kondisi perusahaan di tengah utang sebesar 14 miliar dolar AS dan harus mengembangkan Grasberg, tidak ada pilihan lain bagi Freeport untuk menyetujui negosiasi dengan pemerintah Indonesia.

Alasan lainnya, menurut Iwan, adalah pilihan bermitra dengan Inalum yang dinilai jauh lebih baik. Iwan menyebut selama Freeport berkongsi dengan Rio Tinto, perusahaan tambang itu dinilai banyak mangkir.

"Harusnya 'capex' (belanja modal) dibagi dua, tapi bertahun-tahun Rio Tinto mangkir bayar dan membuat kesal Freeport. Makanya Inalum diharapkan jadi mitra yang lebih baik," tuturnya.

Baca juga: Buat yang Males Gowes, Intip Yuk Sepeda Listrik yang 'Mejeng' di GIIAS 2018

Selanjutnya, alasan lain adalah saham Freeport yang tidak berubah besarannya karena pemerintah Indonesia membeli hak partisipasi (Participation Interest/PI) Rio Tinto.

"Terakhir, karena ada kompensasi penjualan saham Rio Tinto, makanya Freeport menganggap itu sebagai 'business to business' yang bagus," katanya.

Keputusan bisnis itu dinilai lebih terkesan sebagai akuisisi, bukan nasionalisasi.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni

Berita Terkait: