Tembakau Impor Bakal Kena Bea Masuk 60 Persen. Pengamat: Pemerintah Mesti Siap Tanggung Risiko

ilustrasi (Pantau.com/Fery Heryadi)ilustrasi (Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com  Pemerintah melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan, berencana memungut bea masuk, paling sedikit 60 persen kepada pelaku usaha yang memasukkan atau mengimpor tembakau berupa lembaran daun tembakau, gagang tembakau, sobekan daun yang sudah dipisahkan dari gagangnya baik menggunakan mesin, tangan, rajangan belum siap pakai dan rajangan setengah jadi. Rencana tersebut tertuang dalam Bab V RUU Pertembakauan.

Menanggapi rencana pemerintah tersebut, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan rencana pengenaan bea masuk 60 persen tersebut, tidak akan berlaku efektif bagi negara yang telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas Indonesia. Saat ini, pengenaan tarif bagi tembakau ada rambu yang diterbitkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yakni 0 persen hingga 40 persen. 

Nah di Indonesia sendiri, tarif yang dikenakan pemerintah 5 persen hingga 40 persen. “Bagaimana mungkin RUU mengusulkan tarif bea masuk 60 persen impor tarif tembakau?,” kata Yustinus di Gedung DPR, Rabu (24/1/2018)

Yustinus mengatakan, jika rencana memungut bea masuk 60 persen tersebut dilanjutkan, maka pemerintah mesti siap menanggung risiko. Rencana kebijakan proteksi pemerintah itu bakal menguntungkan Tiongkok dan India, karena tidak terpengaruh tarif.

Menurut Yustinus, rencana pengenaan bea masuk tembakau sebesar 60 persen juga dapat berpotensi mendorong Amerika, Turki, dan Brazil bakal mengekspor tembakau-nya melalui negara-negara yang punya perjanjian tarif dengan Indonesia. 

Tim Pantau
Editor
Martina Prianti