Pantau Flash
Positif COVID-19 di DKI Jakarta Bertambah Terus hingga 7.153 Kasus
Kasus Positif COVID-19 RI 25.773, Nihil Kasus Baru di 10 Provinsi
Desak Presiden Jokowi Mundur, Ruslan Buton Dibawa ke Jakarta
AS Akhiri Hubungan dengan WHO, Trump: Mereka Dikendalikan China
Ada 4.599 Kendaraan Menuju Jakarta Diputarbalik

Terkena Kemarau, Harga Tempe dan Tahu di Australia Diprediksi Melonjak

Terkena Kemarau, Harga Tempe dan Tahu di Australia Diprediksi Melonjak Pedagang tempe di Pasar Tradisional (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Kalau anda tinggal di Australia dan senang makan tempe dan tahu, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan kenaikan harga kedua bahan makanan tersebut.

Kekeringan yang berkepanjang di Australia yang sebelumnya menyebabkan naiknya harga roti, susu dan daging, sekarang juga mempengaruhi harga kedelai, bahan utama untuk pembuatan tahu dan tempe. Kekeringan di beberapa daerah yang menjadi pusat produksi kedelai menyebabkan produksi sangat berkurang, sementara permintaan semakin meningkat.

Menurut seorang pedagang kedelai kepada ABC harga satu ton kedelai yang berkisar sekitar $AUD 400 sampai 500 (sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta) selama tiga tahun terakhir, sekarang naik menjadi Rp15 sampai Rp16 juta per ton.

Menurut Shane Causley, seorang petani kedelai di negara bagian New South Wales, saat ini harga satu ton kedelai di pasar internasional hanya sekitar Rp4.5 juta, sementara harga kedelai Australia diperdagangkan sekitar Rp10 juta per ton.

Baca juga: YLKI Sarankan Hapus Kelas BPJS Kesehatan, Iuran Non PBI Rp60.000

Selain menjadi bahan untuk tahu dan tempe, makanan yang disukai oleh warga Asia di Australia, susu kedelai juga minuman yang semakin populer menjadi pengganti susu dari hewan, dan penelitian yang dilakukan Roy Morgan Research juga mengatakan bahwa minuman yang dibuat dati kedelai semakin popular dibandingkan minuman energi.

Meningkatnya harga ini karena produk kedelai di Australia yang terbatas karena kekeringan sementara permintaan terus meningkat.

"Kita memproduksi kedelai relatif sedikit secara keseluruhan dalam tingkat dunia, namun di Australia banyak yang menggantungkan diri pada kedelai Australia, sangat terganggu dengan minimnya persedaiaan." kata Direktur Eksekutif Federasi Biji-bijian Australia Nick Goddard.

Baca juga: Dear Sri Mulyani, Ini Statemen YLKI Soal Usulan Kenaikan BPJS Kesehatan

"Kekeringan yang berkepanjangan memperparah keadaan."

Kawasan yang memproduksi kedelai di Australia adalah di Riverina (NSW), di utara NSW dan juga di bagian selatan Queensland.

Menurut angka yang dikumpulkan oleh lembaga pemantau menyebutkan di tahun 2017/2018 di kawasan New South Wales produksi kedelai mencapai 40 ribu ton, dan angka itu menurun menjadi 26 ribu ton di tahun 2018/2019. Ini berarti produksi menurun sebanyak 18 persen.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni