Pantau Flash
Hasil Survei: Ahok Unggul Atasi Banjir-Macet Ketimbang Anies
Ahsan/Fajar Bawa Indonesia Juara Badminton Asia Team Championships 2020
Andre Rosiade Grebek Prostitusi Online, Gerindra: Itu Tidak Salah
5.518 SPBU Akan Dipasang Digital Nozzle
Menko Luhut Beberkan Upaya Indonesia Tekan Defisit Perdagangan

Wamen ESDM Angkat Isu Bioenergi dan Kendaraan Listrik di Forum ASEAN

Headline
Wamen ESDM Angkat Isu Bioenergi dan Kendaraan Listrik di Forum ASEAN Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar (Foto: Instagram/Arcandra Tahar)

Pantau.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyampaikan bahwa bioenergi merupakan tahapan penting dalam transisi energi dan berperan penting untuk mencapai target Paris Agreement. Hal tersebut disampaikan Arcandra pada forum 37th ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM37) di Athenee Hotel, Bangkok, Thailand, Rabu (4/9/2019).

"Bioenergi merupakan tahapan penting dalam transisi energi dan berperan penting untuk mencapai target Paris Agreement," Arcandra menegaskan perlunya ASEAN mengakui pentingnya bioenergi dalam transisi energi.

Arcandra menyebutkan, Asia Tenggara adalah kawasan yang kaya akan sumber daya bioenergi, namun saat ini potensi bioenergi di negara-negara anggota ASEAN belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia memiliki resource bioenergi yang melimpah, terutama minyak sawit untuk campuran gas oil dan juga dikonversi menjadi green diesel.

Baca juga: Menteri Jonan Ungkap Permintaannya Soal Produksi Migas Indonesia

Dokumen IRENA Report on Global Energy Transformation (2018) memperkirakan bahwa target energi terbarukan di masa depan tidak dapat dicapai tanpa bioenergi. IPCC dalam Energy Technology Perspectives (ETP) Scenario and Biofuture Platform Report juga telah membahas bahwa tujuan pengurangan emisi global tidak dapat dicapai tanpa biofuel. Oleh karena itu, Arcandra mendorong ASEAN untuk meningkatkan kolaborasi dalam pengembangan bioenergi berkelanjutan di negara-negara ASEAN.

"Laporan-laporan tersebut juga dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pengurangan emisi global tidak dapat tercapai tanpa hadirnya kendaraan listrik. Peraturan Presiden tentang kendaraan listrik untuk transportasi darat baru saja diterbitkan. Mempromosikan kendaraan listrik diperlukan bagi Indonesia untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan juga menurunkan emisi gas rumah kaca," papar Arcandra.

Untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia sendiri, peran batubara memang masih dominan sebagai sumber energi. Namun, Pemerintah mulai mendorong penggunaan gas dan energi terbarukan serta penggunaan Clean Coal Technology pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara, dengan tetap mengatur tarif listrik untuk pelanggan agar tetap terjangkau.

Upaya transisi energi dilakukan tidak hanya di sektor pembangkitan, namun juga di sektor transportasi. Indonesia telah memperkenalkan B20 (campuran 20 persen biodiesel pada bahan bakar diesel) yang sebagian besar disuplai dari minyak kelapa sawit. Bahkan, tahun depan Indonesia berencana untuk mengimplementasikan mandatori B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar diesel).

Baca juga: Nikel Tak Diekspor Lagi, RI Makin Berpotensi Jadi Produsen Mobil Listrik

Hal tersebut juga telah diungkapkan Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu selaku Alternate Senior Official of Energy Leader Indonesia pada Senior Official Meeting on Energy (SOME) sehari sebelumnya.

37th ASEAN Ministerial on Energy Meeting (AMEM37) merupakan forum utama para Menteri Energi ASEAN dalam menentukan arah kebijakan kerja sama energi ASEAN. Sementara SOME merupakan pertemuan tahunan antarpejabat tinggi energi ASEAN dengan para mitra wicara (dialogue partners) dan organisasi internasional, menjadi wadah dalam merefleksikan perubahan dinamis dalam lanskap energi global terkini, pentingnya kemampuan adaptasi, dan menangkap peluang-peluang inovasi dalam rangka pencapaian transisi energi untuk pertumbuhan berkelanjutan di negara-negara ASEAN.

Pertemuan tersebut membahas implementasi dan capaian kerja sama ASEAN sesuai dengan dokumen acuan ASEAN Plan of Action on Energy Cooperation (APAEC). Sebanyak 7 focal point area kerja sama energi menyampaikan capaian dan kemajuan aktivitas kerja sama. Selanjutnya, materi tersebut didiskusikan untuk mencapai kesepakatan bersama seluruh negara ASEAN dan diadopsi dalam draft Joint Ministerial Statement, yang disampaikan pada pertemuan AMEM.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: