Pantau Flash
Apple Dikabarkan Tunda Peluncuran iPhone 9 Akibat Virus Korona
Komisioner KPAI Sitti Himawatty Minta Maaf Soal Hamil di Kolam Renang
Survei Indo Barometer: Prabowo Diunggulkan Jadi Capres 2024, Anies Kedua
Lagi, RSHS Bandung Tangani Pasien Suspect Virus Korona
WHO: Dunia Harus Bertindak Cepat Cegah Virus Korona

Wishnutama: Besi Semua, Kantor Kemenparekraf Kok Kayak Diskotek!

Wishnutama: Besi Semua, Kantor Kemenparekraf Kok Kayak Diskotek! Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama saat rapat. (Foto: Antara)

Pantau.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama, mengaku heran dengan Kantor Kementerian Pariwisata. Sebab, kantor tersebut sama sekali tidak menggambarkan layaknya kantor lembaga pariwisata.

Ketika pertama kali dilantik sebagai Menteri dan langsung menuju kantor, Wishnutama heran mengapa kantornya terlihat seperti tempat hiburan malam atau diskotik. Karena bangunannya yang dipenuhi besi-besi modern dan justru menghilangkan kearifan lokal.

"Saya waktu serah terima jabatan sebagai Menteri pas masuk lobinya heran 'kok besi semua'. Ini pariwisata atau apa? Kok kayak diskotek. Saya jadi bingung ini apa," ujar Wishnutama dalam sebuah diskusi di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Baca juga: Ini 5 Persoalan Utama Whisnutama untuk Bangun Industri Pariwisata

Selai itu, dirinya mengaku iri dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang memiliki kantor yang asri. Kantor yang dimiliki oleh Menteri Basuki juga mencirikan sekali idenitias dari Kementeriannya.

"Saya jeles sama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono wilayahnya asri sejuk banget," ucapnya.

Jelas ini berbeda dengan kantornya yang justru lebih terlihat terlalu modern dan mengurangi esensi lokal konten. Ditambah lagi, kantor Kementerian juga seringkali menjadi spot demo masyarakat, karena berada berdekatan dengan Monumen Nasional (Monas) dan Istana Kepresidenan.

Baca juga: 5 Daftar Orang Kaya Baru di China, Ada yang dari Kedai Kopi

"Kalau di situ (Kantor Kementerian Pariwisata) kan sudah di depannya demo. Ya mungkin lama lama akan terbiasa dengan demo," paparnya.

Kendati demikian, mantan bos salah satu media itu melarang kantor yang modern. Justru jika modern dipadukan dengan kearifan lokal akan terlihat lebih bagus dan menarik.

"Jadi ini harus dari segala macem. Jadi memang tidak melulu harus masif (modern semua), (harus) ada tawaran yang berbeda,"tuntasnya.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Category
Ekonomi

Berita Terkait: