Kasus Korupsi Pabrik Baja, Kejagung Periksa Eks Komisaris Independen PT Krakatau Steel

Headline
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Ketut Sumedana. Dok. Antara

Pantau – Tim penyidik Jampidsus Kejagung memeriksa satu orang saksi terkait kasus dugaan korupsi pembangunan Pabrik Blast Furnace PT Krakatau Steel pada 2021, Senin (1/8/2022).

Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, saksi diperiksa untuk berkas lima orang tersangka.

“Memeriksa 1 (satu) orang saksi yang terkait dengan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Pabrik Blast Furnace PT Krakatau Steel pada 2011 atas nama tersangka FB, ASS, BP, HW alias RH, dan tersangka MR,” ujar Ketut Sumedana dalam keterangannya.

Menurut Ketut, saksi yang diperiksa adalah Komisaris Independen PT Krakatau Steel periode 2017 berinisial NR.

“Saksi yang diperiksa yaitu NR selaku Komisaris (Independent) PT Krakatau Steel periode 2017,” katanya.

Kejagung sebelumnya merilis dugaan kerugian negara dalam kasus Krakatau Steel ini sekitar Rp.6,9 triliun.

Menurut Kapuspenkum, kerugian sebagai akibat dari pelaksanaan perencanaan, tender/lelang, kontrak, dan pelaksanaan pembangunan, telah terjadi penyimpangan.

“Hasil pekerjaan BFC saat ini mangkrak karena tidak layak dan tidak dapat dimanfaatkan dan terdapat pekerjaan yang belum selesai dikerjakan,” katanya.

Kasus bermula pada 2011-2019 PT. Krakatau Steel (persero) melakukan pengadaan pembangunan Pabrik Blast Furnace Complex. Pabrik yang melakukan proses produksi besi cair (hot metal) dengan menggunakan bahan bakar batubara (kokas) dengan tujuan untuk memajukan industri baja nasional dengan biaya produksi yang lebih murah karena dengan menggunakan bahan bakar gas, maka biaya produksi lebih mahal.

“Direksi PT Krakatau Steel (persero) tahun 2007 menyetujui pengadaan pembangunan pabrik BFC dengan bahan bakar batubara dengan kapasitas 1,2 juta ton/tahun hot metal,” ujarnya.

Kapuspenkum menambahkan, kontrak pembangunan Pabrik Blast Furnace PT KS dengan sistem turnkey (terima jadi) sesuai dengan kontrak awal Rp4,7 triliun hingga addendum ke-4 membengkak menjadi Rp6,9 triliun.

Kontraktor pemenang dan pelaksana yaitu MCC CERI konsorsim dengan PT Krakatau Engineering. [Laporan Syrudatin]

Tim Pantau
Editor
Aries Setiawan