Pantau Flash
Quartararo Tercepat di Hari Kedua Uji Coba Qatar
Ji Xinping: Perjuangan China Hadapi Korona Masih pada Tahap Genting
Apple Dikabarkan Tunda Peluncuran iPhone 9 Akibat Virus Korona
Komisioner KPAI Sitti Himawatty Minta Maaf Soal Hamil di Kolam Renang
Survei Indo Barometer: Prabowo Diunggulkan Jadi Capres 2024, Anies Kedua

Akan Sekuat Apa Kim Jong Un di Korea Utara ke Depannya?

Akan Sekuat Apa Kim Jong Un di Korea Utara ke Depannya? Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tersenyum saat memimpin uji misil di lokasi tidak disebutkan di Korea Utara, pada gambar tanpa tanggal oleh KCNA). (Foto: Reuters/KCNA)

Pantau.com - Parlemen Korea Utara menyetujui amendemen untuk memperkuat peran Pemimpin Kim Jong Un sebagai kepala negara.

Langkah tersebut muncul setelah secara resmi Kim ditunjuk sebagai kepala negara sekaligus panglima militer dalam konstitusi baru pada Juli yang menurut analis kemungkinan untuk mempersiapkan perjanjian damai dengan AS.

Baca juga: Pengerahan Massal Militer AS ke Semenanjung Korea Bisa Ciptakan Chaos

Korut telah lama menyerukan perjanjian damai dengan AS untuk memulihkan hubungan dan juga mengakhiri situasi teknis perang yang sudah ada sejak Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata daripada perjanjian damai.

Status hukum Kim sebagai "perwakilan negara kami telah dikonsolidasikan lebih lanjut guna memastikan arahan monolitik Pemimpin Tertinggi atas semua urusan negara," demikian Kantor Berita KCNA, yang mengutip presiden presidium majelis rakyat tertinggi, Choe Ryong Hae.

Konstitusi baru menyatakan Kim, sebagai pimpinan Komisi Urusan Negara (SAC), lembaga tinggi pemerintah yang dibentuk pada 2016, yang merupakan perwakilan tertinggi seluruh rakyat Korea, serta "panglima." Konstitusi sebelumnya hanya menyebut Kim "pemimpin tertinggi" yang menginstruksikan "seluruh pasukan militer" negara tersebut.

Baca juga: Korea Utara: Kami Siap Perang dengan Amerika Serikat! Bagaimana Trump?

Amendemen konstitusional pada Kamis tampaknya mengkonfirmasi bahwa sistem hukum Korut kini akan mengakui Kim sebagai kepala negara.

Konsititusi baru memberi wewenang kepada Kim untuk mengumumkan peraturan perundang-undangan, keputusan dan dekret utama serta menunjuk atau menarik utusan diplomat untuk urusan luar negeri, kata KCNA.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: