Angka Harapan Hidup di AS Merosot Tajam Gara-gara Hal Ini

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Pantau.com – Sebuah laporan terbaru dari Journal of American Medical Association (JAMA) pada Selasa kemarin mengungkapkan angka harapan hidup di Amerika Serikat terus menurun berturut-turut dalam tiga tahun terakhir.

Menurut JAMA, kematian paruh baya yang diidentifikasi sebagai kematian individu antara usia 25 dan 64, telah meningkat di semua kelompok ras. Pemicunya adalah overdosis obat-obatan, penyalahgunaan alkohol, bunuh diri, dan beragam penyakit pada organ tubuh.

Baca juga: Amerika Dukung Israel Bangun Pemukiman Yahudi di Wilayah Tepi Barat

Dilansir Sputnik, Kamis (28/11/2019), peningkatan angka kematian di usia paruh baya terjadi dari 2014 hingga 2017, merupakan tahun terakhir yang diteliti dalam penelitian itu.

“Harapan hidup di AS meningkat selama 60 tahun terakhir, tetapi kenaikan melambat dari waktu ke waktu dan harapan hidup menurun setelah tahun 2014,” demikian peneliti menyimpulkan. “Implikasinya bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi sangatlah besar”.

Lembah Ohio, yang meliputi bagian dari Virgina Barat, Kentucky, dan Indiana, hingga New England utara terdaftar sebagai salah satu wilayah geografis yang paling terdampak. Di wilayah tersebut mereka telah kehilagan pekerjaan manufaktur dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, di Ohio dan Virginia Barat telah dipengaruhi oleh epidemi kecanduan opioid.

Sementara itu, Pusat Statistik Kesehatan Nasional mengatakan, tingkat kesuburan di AS juga menurun pada tahun 2018. Ini adalah untuk tahun keempat yang berturut-turut. Tingkat kesuburan 2018 yakni 59,1 kelahiran untuk setiap 1.000 wanita dan ini merupakan rekor terendah.

Baca juga: Amerika Serikat Prihatin Atas Sikap China yang Campuri Pemilu Taiwan

Penurunan telah berlangsung sejak krisis keuangan 2008, dengan sedikit peningkatan pada tahun 2014. Tingkat kesuburan cenderung menurun pada periode krisis ekonomi, tetapi dalam hal ini, tingkat kesuburan belum pulih bahkan ketika ekonomi telah pulih.

“Sulit bagi saya untuk percaya bahwa angka kelahiran terus turun,” ujar Kenneth Johnson dari University of New Hampshire kepada New York Times.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta