Pantau Flash
Zona Merah COVID-19 di Kabupaten Bogor Kini Merambah Jonggol
Asisten Pelatih Timnas Indonesia Positif Virus Korona
Yasonna Bantah Sengaja Ingin Bebaskan Napi Koruptor
Jasa Marga Pastikan Wakil Jaksa Agung Terlibat Kecelakaan Tunggal
KKP Lumpuhkan Dua Kapal Berbendera Vietnam yang Curi Ikan di Laut Natuna

Bukan Hanya Manusia, 5 Hewan Ini Punya Peran Penting dalam Sejarah Dunia

Bukan Hanya Manusia, 5 Hewan Ini Punya Peran Penting dalam Sejarah Dunia Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Bukan hanya manusia yang dapat mengubah sejarah di dunia ini, ternyata hewan memiliki peranan yang penting.

Seperti merpati terkenal Cher Ami yang menyelamatkan pasukan berkat surat yang dibawanya hingga anjing pembawa obat di Alaska. Berikut ini hewan-hewan yang memberi warna sejarah kehidupan manusia.

1. Dolly Sheep


Dolly Sheep. (Foto: Triggerphoto/iStock)

Pada tanggal 5 Juli 1996, dunia dikejutkan dengan keberhasilan percobaan kloning pertama domba yang memiliki nama Dolly. Kelahiran Dolly membuktikan bahwa sebuah teknik yang disebut sel somatik transfer nuklir --teknik di mana inti sel dewasa ditransfer ke dalam sel telur yang tak dibuahi, bisa bekerja.

Dolly mati pada usia enam tahun karena penyakit paru. Tetapi teknik kloning yang digunakan untuk memproduksinya kemudian dilakukan pada mamalia besar lainnya, termasuk babi, rusa, kuda, dan sapi jantan.

Baca juga: Punya Hewan Peliharaan? Ini 5 Hal yang Harus Diperhatikan

2. Merpati Cher Ami


Merpati Cher Ami. (Foto: Luvo/iStock)

Selama Perang Dunia I, merpati ini hidup dan menjadi bagian dari pasukan Amerika. Merpati Cher Ami telah menyampaikan 12 pesan selama pelayaran kepada US Army Signal Corps di Prancis, tetapi tak ada yang lebih penting dari surat yang ia sampaikan pada awal Oktober 1918.

Pada hari itu, Mayor Charles White Whittlesey dan lebih dari 500 orang terjebak di belakang garis musuh tanpa makanan atau amunisi. Takut bahwa batalionnya dihabiskan oleh api musuh, Whittlesey berusaha untuk mengirim pesan ke kompatriotnya melalui merpati itu. Dua burung pertama ditembak jatuh, tapi Cher Ami berhasil terbang melewati rentetan api untuk menyampaikan pesan ini: 

“We are along the road parallel to 276.4. Our own artillery is dropping a barrage directly on us. For heaven’s sake, stop it.” 

Shelling berhenti dan pasukan diselamatkan. Cher Ami menerima medali Croix de guerre untuk keberaniannya. Setelah kematiannya pada 1919, jenazahnya diawetkan dan dipamerkan di Smithsonian Institute.

3. Simpanse David Greybeard


Simpanse David Greybeard. (Foto: Norrie3699/iStock)

Sampai 1960, para ilmuwan percaya bahwa hanya manusia yang memiliki kemampuan untuk membuat dan menggunakan alat. Namun pada 4 November di tahun itu, Jane Goodall mengamati seekor simpanse bernama David Greybeard menggunakan tangkai rumput untuk mengekstrak rayap dari sarangnya. 

Kemudian, Goodall mengamati David Greybeard dan simpanse lainnya tengah membuat alat memancing dengan melucuti daun dari ranting. "David adalah simpanse pertama yang membiarkan saya mendatanginya lebih dekat, yang kehilangan rasa takutnya," kata Goodall kepada Bill Moyers pada 2011. 

"Dia membantu memperkenalkan dunia sihir di hutan kepada saya," tambahnya.

Baca juga: 5 Pelajaran Hidup dari Hewan Ini Patut Kamu Tiru Guys!

4. Singa Elsa


Ilustrasi Elsa. (Foto: GP232/iStock)

Pada 1956, George Adamson, seorang sipir di Kenya, dan istrinya Joy, mengadopsi seekor anak singa kecil yang mereka Namai Elsa. Selama bertahun-tahun, Adamsons membesarkan dan merawat Elsa di rumah mereka di Afrika, mengajarinya untuk berburu sendiri dan mengembangkan kemampuan untuk bertahan hidup di alam liar. 

Akhirnya, pasangan itu melepaskan Elsa ke alam bebas dan dia selamat. Pada 1960, Joy menulis sebuah buku non-fiksi, Born Free, tentang pengalaman membesarkan Elsa. Enam tahun kemudian, sebuah film tentang Elsa diangkat dan dikreditkan untuk mempromosikan konservasi satwa liar kepada masyarakat umum.

5. Anjing Balto


Monumen Balto. (Foto: Raghu Ramawamy/iStock)

Pada 1925, dokter di Alaska menghadapi dilema yang mematikan. Sebuah epidemi difteri siap mewabah melalui Kota Nome, Alaska, di Pantai Barat, dan satu-satunya serum yang bisa menyelamatkan mereka berada di Seattle.

Tidak dapat memberikan obat dengan pesawat, ilmuan memiliki ide untuk menggunakan beberapa tim kereta luncur anjing untuk mengangkut antitoksin ke desa. Tim dipimpin oleh Balto, anjing hitam dan putih jenis Siberia Husky, yang berlari melalui badai salju di tengah malam untuk memberikan serum. 

Setelah mencapai kota di pagi hari tanggal 2 Februari 1925, pemilik Balto, Gunter Kaasen mengucapkan hanya tiga kata: "damn fine dog". Tidak mau kalah, anjing heroik ini menyelamatkan nyawa pemiliknya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW

Berita Terkait: