Pantau Flash
ABK WNI Disiksa di Kapal China, Komisi IX Minta Pemerintah Tuntaskan
Sultan HB X: Warga Merapi Tak Perlu Diajari Erupsi, Mereka Lebih Paham
Sri Mulyani: Defisit APBN Semester I Capai 1,57 Persen
Pengelola: Ancol Direklamasi Agar Tetap Bertahan di Dunia Rekreasi
Masjid Istiqlal Tak Akan Gelar Salat Idul Adha

Demo di Irak Berakhir Ricuh, 40 Orang Dinyatakan Tewas

Demo di Irak Berakhir Ricuh, 40 Orang Dinyatakan Tewas Sedikitnya 12 orang telah tewas dalam protes anti-pemerintah di seluruh Irak, yang meletus awal pekan ini (Foto: Anadolu Agency)

Pantau.com - Sedikitnya 40 pengunjuk rasa di Irak tewas, ketika pasukan keamanan menggunakan gas air mata dan milisi dukungan Iran melepaskan tembakan.

Seperti diketahui, aksi protes lanjutan kembali pecah di Irak guna menentang korupsi dan kesulitan ekonomi, menurut sumber keamanan.

Seorang pejabat intelijen pemerintah sekaligus anggota milisi Asaib Ahl al-Haq berpengaruh tewas akibat bentrokan dengan pengunjuk rasa di Kota selatan Amara.

Baca juga: Rusia-Turki Bikin Kesepakatan, Pasukan Kurdi Tinggalkan Suriah

Lebih dari 2.000 orang terluka dari seluruh wilayah, menurut sumber medis dan Komisi Tinggi HAM Irak (IHCHR), saat masa melampiaskan frustasi mereka terhadap elit politik yang menurutnya gagal memperbaiki kehidupan setelah bertahun-tahun konflik.

"Yang kami inginkan empat hal: pekerjaan, air, listrik dan keamanan. Itulah yang kami inginkan," kata Ali Mohammed, (16) yang menutupi wajahnya dengan kaos untuk menghindari gas air mata, saat situasi di Lapangan Tahrir Baghdad rusuh.

Sirene meraung-raung dan tembakan gas air mata terus disemprotkan ke arah massa yang berselubung bendera Irak sambil meneriakkan dengan nyawa dan darah kami membela Irak.

Baca juga: Gencatan Senjata Permanen di Suriah, Sanksi AS atas Turki Dicabut

Pertumpahan darah itu merupakan aksi kekerasan brutal kedua pada Oktober ini. Serentetan bentrokan dua pekan lalu antara massa dan pasukan keamanan menewaskan 157 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang lainnya.

Kerusuhan tersebut menghancurkan hampir dua tahun stabilitas di Irak, yang hidup melalui pendudukan asing, perang saudara dan perlawanan ISIS antara 2003-2017.

Aksi tersebut menjadi tantangan terbesar bagi pasukan keamanan sejak ISIS dinyatakan kalah.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: