Pantau Flash
DPR Lantik Tiga PAW, Dua dari PDIP dan Satu Nasdem
Menteri Edhy Bertolak ke Australia Bahas Budidaya Lobster
Arab Saudi Berhentikan Sementara Pelayanan Umrah Gara-gara Korona
'Wanita Bisa Hamil di Kolam Renang' Jadi Sorotan Media Internasional
Bayern Munchen Rilis Jersey Khusus Peringati Hari Jadi ke-120

Ikut Unjuk Rasa Pro Kemerdekaan di Papua, 4 WN Australia Dideportasi

Headline
Ikut Unjuk Rasa Pro Kemerdekaan di Papua, 4 WN Australia Dideportasi Empat WN Australia meninggalkan Papua pekan ini. (Foto: via ABC News)

Pantau.com - 4 warga negara Australia dideportasi dari Indonesia setelah diduga ikut unjuk rasa pro-kemerdekaan di Papua Barat.

Poin utama:

• Keempat WN Australia ditangkap di Sorong, Papua Barat, Selasa (27/8/2019) lalu

• Polisi mengklaim keempat WN Australia itu menggunakan kapal pesiar untuk masuk ke Indonesia, melewati Pelabuhan Sorong

• Sorong telah menjadi salah satu dari beberapa lokasi unjuk rasa rusuh terkait Papua dalam dua minggu terakhir

Kepolisian Indonesia mengklaim Tom Baxter, Cheryl Davidson, Danielle Hellyer dan Ruth Cobbold ambil bagian dalam unjuk rasa di luar kantor Walikota Sorong pada 27 Agustus.

Melansir ABC News, Selasa (3/9/2019), unjuk rasa itu adalah salah satu dari serangkaian aksi protes terkait Papua di seluruh Indonesia selama dua minggu terakhir, yang setidaknya menyebabkan tiga orang tewas, dan banyak bangunan pemerintah dibakar.

Baca juga: Rumah Pancasila Sebut Pengibaran Bendera Bintang Kejora Tak Bisa Dipidana

Bendera Bintang Kejora, yang dilarang dikibarkan di properti milik Pemerintah, sempat dikibarkan pada aksi di Sorong. Polisi mengatakan tiga WN Australia itu diikuti oleh anggota militer Indonesia, intelijen polisi dan agen imigrasi sebelum mereka dibawa ke kantor polisi Sorong untuk diinterogasi pada 27 Agustus.

Keesokan harinya, petugas intelijen imigrasi dan polisi menangkap WN Australia keempat di kapal pesiar mereka, yang bernama Valkyrie. Keempatnya dilaporkan menggunakan kapal pesiar untuk masuk ke Indonesia, melewati Pelabuhan Sorong pada 10 Agustus.

Setelah diperiksa lebih lanjut oleh polisi dan imigrasi, keempatnya diperintahkan untuk dideportasi kembali ke Australia. Baxter, Hellyer dan Cobbold akan terbang dari Bali ke Sydney Senin (2/9/2019) malam, sedangkan Davidson akan diterbangkan pada hari Kamis (5/9/2019).

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) mengatakan bahwa departemennya "memberikan bantuan konsuler kepada empat warga Australia di Sorong, Indonesia sesuai dengan "Prosedur Layanan Konsuler". Ia mengutip "kebijakan privasi" karena tak bisa memberikan rincian lebih lanjut.

Baca juga: Moeldoko Sebut Benny Wenda Otak Kerusuhan di Papua dan Papua Barat

Pada hari Minggu 1 September 2019, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Jenderal Toto Karnavian, mengklaim adanya "aktor asing" yang terlibat dalam kerusuhan itu. "Kami tahu kelompok-kelompok [demonstran] ini memiliki hubungan dengan jaringan internasional," katanya.

"Kami harus menangani [masalah] ini di dalam dan di luar negeri. Kami bekerja sama dengan Menteri Luar Negeri dan jaringan intelijen kami."

Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) dan Bank Dunia, Produk Domestik Bruto (GDP) per kapita regional Papua dan Papua Barat lebih tinggi secara signifikan ketimbang rata-rata nasional Indonesia, terutama karena adanya pertambangan.

Di lain pihak, dua provinsi ini juga merupakan wilayah yang paling miskin di Indonesia dengan tingkat kematian tertinggi pada anak-anak dan ibu hamil, serta tingkat melek huruf yang paling buruk. Unjuk rasa berminggu-minggu pecah di Papua pasca insiden rasisme di Jawa Timur.


Unjuk rasa berminggu-minggu pecah di Papua pasca insiden rasisme di Jawa Timur. (Foto: AP/Beawiharta via ABC News)

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: