Vaksin Kominfo Vaksin Kominfo
Pantau Flash
Pemerintah Tegaskan Vaksin Dosis Ketiga Hanya untuk Nakes!
Teten Masduki Sebut Jangan Lagi Impor Alat Kesehatan dan Pertanian, Akan Koordinasi dengan Menkes dan Mentan
Mobilitas Kendaraan di Bandung dan Puncak Menurun pada Akhir Pekan Ini
Update COVID-19 Indonesia 25 September 2021, Penambahan Kasus Harian Terbanyak Ada di Jawa Tengah
Pandemi Belum Usai, PBNU Dorong Pemerintah Benahi Sistem Kesehatan Nasional

Kepala Intelijen Australia: Intervensi Asing Lebih Bahaya dari Teroris

Headline
Kepala Intelijen Australia: Intervensi Asing Lebih Bahaya dari Teroris Bos lembaga intelijen ASIO menyebut intervensi asing di Australia sudah sangat parah. (Foto: AAP/Lukas Coch via ABC News)

Pantau.com - Kepala lembaga intelijen Australia ASIO Duncan Lewis memperingatkan, intervensi asing bisa menimbulkan ancaman yang lebih besar daripada terorisme. Dia menyebut hal ini "ancaman eksistensial" bagi negara.

"Terorisme tidak pernah menjadi ancaman eksistensial bagi negara-negara mapan," kata Lewis dalam forum Lowy Institute di Sydney, yang dikutip dari ABC News, Kamis (5/9/2019).

Intervensi asing, katanya, merupakan risiko besar yang harus dihadapi masyarakat Australia setiap hari. "Masalah kontra-spionase dan campur tangan asing pada akhirnya merupakan ancaman eksistensial bagi negara," jelasnya.

Pemerintah Australia mengeluarkan UU Intervensi Asing tahun lalu dan belum lama ini membentuk satuan tugas yang bertujuan melindungi perguruan tinggi di negara ini dari campur-tangan asing.

Baca juga: AS-China Sepakat Bertemu di Washington Ketika Perang Dagang Berlangsung

Keputusan itu diambil setelah terjadinya peretasan data besar-besaran pada Universitas Nasional Australia (ANU) yang memicu kekhawatiran parlemen bahwa perguruan tinggi tidak bertindak memadai memerangi pengaruh China di kampus masing-masing. Lewis mengatakan ancaman itu tidak terbatas pada negara tertentu.

"ASIO menilai bahwa skala dan ruang lingkup kegiatan intelijen asing saat ini terhadap kepentingan Australia belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.

"Berbeda dengan insiden terorisme, bahaya dari spionase mungkin tidak dirasakan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun," jelasnya.

"Kegiatan semacam ini biasanya berlangsung tenang, berbahaya dan mereka memiliki jejak yang panjang."

Ancaman siber


Ilustrasi serangan siber. (Pixabay)

Bos ASIO ini mengatakan Australia menjadi "target empuk" serangan siber yang disponsori negara tertentu. Dia menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan penambahan kewenangan kepada lembaga intelijen domestik ASD.

Kewenangan ASD memicu kontroversi setelah artikel di media News Corp mengenai kemungkinan perluasan kewenangan, menyebabkan rumah jurnalis Annika Smethurst digerebek polisi awal tahun ini.

Ancaman siber, kata Lewis, muncul setiap hari, sehingga perlu meninjau kembali kemampuan ADS dalam melindungi warga Australia.

Lewis ditunjuk memimpin ASIO pada tahun 2014 setelah berkarir di militer dan jabatan publik lainnya.

Baca juga: Benny Wenda Minta PBB dan Australia Kecam Indonesia atas Kerusuhan di Papua

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: