Pantau Flash
Pemkab Bogor Diminta Turun Tangan Atasi Kepadatan Jalur Puncak Saat PSBB
The New Normal, Penumpang Wajib Datang 4 Jam Sebelum Penerbangan
Kasus Positif di Indonesia Capai 26.940, Pasien Sembuh Tercatat 7.637
Resmi! MotoGP Jepang Batal Digelar Akibat COVID-19
23 Mall di Bandung Ajukan Kesiapan Penerapan 'New Normal' di Tengah Pandemi

Mendag Australia Kunjungi China di Tengah Dinginnya Hubungan Diplomatik

Mendag Australia Kunjungi China di Tengah Dinginnya Hubungan Diplomatik Dokumen foto Kedutaan Besar Republik Rakyat China (RRC) di Kota Canberra, Australia. (Foto: visitcanberra)

Pantau.com - Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham lakukan kunjungan ke China, Selasa (5/11/2019). Kedatangan Birmingham itu untuk memastikan agar hubungan diplomatik yang mendingin antara kedua negara itu tidak menghambat perdagangan.

Hubungan diplomatik Australia-China dalam beberapa tahun ini memang diwarnai ketegangan di tengah tuduhan bahwa Beijing melakukan serangan siber dan berupaya mencampuri urusan dalam negeri Australia.

Sebelumnya, pada Minggu 3 November 2019, Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Perdana Menteri China Li Keqiang bertemu dan keduanya berjanji untuk berusaha meningkatkan hubungan, yang perdagangan kedua negara itu tahun lalu mencatat nilai lebih dari 180 miliar dolar Australia (sekitar Rp1,7 kuadriliun).

Birmingham tiba di Shanghai untuk memperkuat pesan tersebut. Ia memimpin delegasi beranggotakan 200 perusahaan Australia untuk berpartisipasi pada China International Import Expo (CIIE).

Baca juga: Catat! Ekonomi Global Hanya Tumbuh 3 Persen Jika Perang Dagang Berlanjut

"Keikutsertaan kuat Australia pada CIIE merupakan pengakuan atas hubungan perdagangan dan investasi yang erat yang dijalankan para pengusaha kami dengan China, didukung dengan Perjanjian Perdagangan Bebas China-Australia," kata Birmingham dalam pernyataannya melalui keterangan tertulis.

Birmingham adalah menteri tingkat paling tinggi Australia yang melawat ke China setelah Menteri Luar Negeri Marise Payne berkunjung ke Beijing pada November 2018.

China telah menyampaikan protes secara resmi setelah Payne bulan ini mengatakan bahwa Canberra akan membuat Beijing bertanggung jawab terkait catatan hak asasi manusia.

China telah mendapat kecaman dari kalangan luas karena mendirikan kompleks-kompleks di daerah terpencil Xinjiang, yang disebut China sebagai "pusat pelatihan kejuruan" dengan tujuan untuk membasmi aliran garis keras serta memberi pelatihan berbagai keahlian baru.

Baca juga: Dubes Ingatkan Investor Asing Asal China Gandeng Mitra Lokal yang Tepat

Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan sedikitnya satu juta warga etnik Uighur dan warga Muslim lainnya telah mengalami penahanan.

Perekonomian Australia sedang melemah dalam beberapa bulan terakhir ini sehingga meningkatkan ketergantungan Canberra pada China.

China selama ini mendominasi pembelian komoditas bijih besi, batu bara dan pertanian Australia. China membeli lebih dari sepertiga komoditas total Australia dan mengirimkan lebih dari satu juta wisatawan dan mahasiswa ke negara itu.

"Hubungan dengan China dalam keadaan baik. Kenyataan bahwa Menteri Birmingham berada di sini menunjukkan komitmen Australia untuk terus menjaganya seperti itu," kata James Laurenceson, Plt Direktur Institut Hubungan Australia-China pada Universitas Teknologi Sydney.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Lilis Varwati
Penulis
Lilis Varwati

Berita Terkait: